MONUMEN ISLAM SAMUDRA PASAI


photo/dok Monumen Islam Samudra Pasai 

HABANANGGROE24.COM | ACEH UTARA - Pembangunan Monumen Islam Samudra Pasai akan menjadi proyek monumental abad 21 dimana pemerintah hadir dan peduli akan tinggalan Arkeologis sejarah Islam  yang terkenal di Asia Tenggara yaitu Kerajaan Samudra Pasai.

Raja-raja yang pernah memimpin kerajaan ini (abad 13 M s/d 15 M) sangatlah bijaksana, bersahaja, adil, taqwa dan bersahabat dengan bangsa lain terutama kaum Muslim.  Disini dididik santri-santri untuk menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Nusantara. Hasil Bumi yang melimpah yang dapat ditawarkan sebagai komoditi yang sangat diminati pihak luar negeri sehingga terjalin hubungan ekonomi yang baik antar Daerah dan luar Negeri melalui transportasi laut yang melintasi rute perjalanan yang saat ini kita namakan “Jalur Rempah”. 

Masyarakat Dunia sangat menghormati Raja dan rakyat Negeri ini. Kedatangan para petualang Jazirah Arab (Ibnu Bathutah) dan negeri lainnya seperti Marcopolo, Laksamana Cheng Ho, Ordorico, Tom Pires  dan masih banyak petualang lainnya, sangat menginspirsi dan mereka menulis perjalanan tersebut dalam karya tulis mereka seperti Rikhlah Ibnu Bathutah, Travel of Marcopolo, Suma Oriental dan beberapa Naskah yang ditulis dalam aksara Tionghoa. Semua Naskah ini berkisah tentang perjalanan mereka ke Kerajaan Samudra Pasai yang luar biasa.

Ibnu Bathutah memberi gelar kepada negeri ini sebagai “Madinah Syumuthrah” yang artinya suatu kemasyarakatan dengan kepemerintahan yang mirip dengan Madinah Al Munawwarah.

Kerjasama Pemerintah Aceh Utara dengan semua pihak telah mensosialisasikan tentang Pentingnya Pembangunan sebuah Cagar Budaya yang mengingatkan kita akan sejarah Pendahulu kita tentang penyebaran dan pengembangan syariat Islam di Bumi Malikussaleh.

Nilai-nilai sejarah yang dititipkan kepada kita, menjadi identitas dan jati diri masyarakat Aceh Utara yang perlu kita jaga bersama dari penodaan era globalisasi demi harkat dan matabat masyarakat Aceh Utara.

Berdasarkan Hasil Kajian pada sebuah forum bergengsi Tingkat Internasional tahun 2003 maka Pemerintah Daerah Aceh Utara perlu mengumpulkan data-data tentang kebenaran sejarah yang maha penting untuk dibangun sebuah ruang publik berkapasitas pengunjung   ± 500 orang.

Gedung ini bisa Multi Guna selain menjadi sarana informasi sejarah, destinasi wisata juga dapat difungsikan sebagai mercusuar bahkan bisa  untuk tempat penyelamatan warga ketika gelombang pasang tinggi (Tsunami) menerjang area tersebut.

Untuk mewujudkan cita-cita ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara  (Tahun 2003) membebaskan lahan seluas ± 7,5 Ha.  Di awal tahun 2004 Pemerintah Kabupaten Aceh Utara  menyusun sebuah DED (Detail Engineering Design) pembangunan monumen Islam Samudra Pasai untuk diusulkan konstruksinya kepada Pemerintah Pusat.

Perencanaan ini tidak pernah teraktualisasi dilapangan meskipun sudah pernah diusulkan kepada Pemerintah pusat bahkan ke luar negeri sekalipun.

Pada Tahun 2009, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mencoba mengusulkan kembali kepada Pemerintah Pusat, tetapi sayangnya belum ada alokasi anggaran, Selanjutnya Pada tahun 2012 kembali lagi usulan ini diajukan dan Alhamdulillah terkabulkan, Pemerintah Pusat pun menyetujui untuk membangun Monumen Islam Samudra Pasai.

Saat ini bangunan tersebut telah berdiri dan dikunjungi oleh banyak pengunjung, bukan hanya warga Aceh Utara saja, monumen ini juga dikunjungi oleh para pengunjung dari Provinsi lain hingga bahkan luar negeri  (Malaysia dan Thailand).  Dikarenakan masih dalam masa perawatan dan belum terselesaikannya interior dan tata pamer yang akan dilanjutkan pada tahun ini, maka Pemerintah Pusat belum menyerahkan bangunan tersebut. Apabila diserahkan nantinya, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara harus menyiapkan anggaran untuk operasional dan pemeliharaannya.

Kami terus bekerja membangun hubungan baik dengan Pemerintah Provinsi dan DPR RI Komisi IX untuk mengalokasikan anggaran yang memadai untuk finishing (exterior dll, dan jalan menuju Monumen, mengingat keinginan masyarakat berbagai provinsi untuk datang menyaksikan kemegahan bangunan ini sebagai manifestasi kejayaan Kerajaan Samudra Pasai dan Islam pada masa itu. Hampir setiap hari pengunjung berdatangan.  Apabila terkelola dengan baik akan menguntungkan Pemerintah Daerah sebagai  PAD serta masyarakat sekitar yang akan berdagang untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

Pemerintah Daerah Kabulaten Aceh Utara menaruh harapan besar agar bangunan ini segera diresmikan dan diserahkan kepada Daerah sebagai wujud pelestarian Cagar Budaya yang monumental ini.

Penulis:
SAIFULLAH, M.Pd

Post a Comment

0 Comments