Untuk Siganteng Penampar Presiden Prancis Vonis 4 Bulan Penjara

Jakarta - Penampar Presiden Perancis, Emmanuel Macron, langsung disidang atas ulahnya yang bikin geger dunia. Vonis 4 bulan penjara pun dijatuhkan pada pelaku.

Presiden Prancis ditampar di wajah saat menemui dan menyapa kerumunan warga dalam kunjungan di wilayah Prancis bagian tenggara, Selasa (8/6). Insiden ini terekam video yang beredar luar di media sosial.

Macron awalnya mendekati kerumunan warga yang dipisahkan pagar pembatas untuk menjabat tangan mereka. Namun saat dia menyapa seorang pria berkaos hijau, tiba-tiba pria itu menampar wajahnya dengan keras. Pengawal kepresidenan yang berada di samping dan belakang Macron dengan cepat mengamankan pria itu dan menarik badan Macron menjauhi pria itu.

Penampar dan Perekam Video

Penampar dan perekam kejadian itu kemudian ditangkap dan disidang. Vonis langsung dijatuhkan untuk mereka.

Seperti dilansir AFP dan Al Jazeera, sumber kepolisian mengidentifikasi tersangka sebagai Damien Tarel (28) yang diketahui tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya. Tarel ditahan polisi sejak Rabu (9/6) waktu setempat, setelah diamankan polisi.

Tersangka kedua diidentifikasi sebagai Arthur C yang juga berusia 28 tahun. Disebutkan bahwa Arthur yang juga tidak memiliki catatan kriminal ini, ditangkap atas dugaan sengaja merekam tindak penyerangan terhadap Macron.

In this grab taken from video France's President Emmanuel Macron, centre, is slapped by a man, in green T-shirt, during a visit to Tain-l'Hermitage, in France, Tuesday, June 8, 2021. Macron denounced Momen Presiden Prancis ditampar warga (BFM TV via AP) Foto: BFM TV via AP

Rumah keduanya digeledah oleh polisi setempat setelah mereka ditangkap. Kantor jaksa setempat menuturkan bahwa di rumah Arthur, polisi menemukan sejumlah senjata, beberapa buku tua soal seni perang, kemudian sebuah salinan buku manifesto Hitler yang berjudul 'Mein Kampf' dan dua bendera, dengan salah satunya melambangkan komunis dan yang lain simbol revolusi Rusia.

Penampar awalnya diperkirakan akan didakwa atas penyerangan tokoh publik, yang diketahui memiliki ancaman hukuman maksimum tiga tahun penjara dan denda maksimum 45.000 Euro (Rp 780 juta). Meskipun pengadilan biasanya akan mempertimbangkan catatan kriminal yang bersih dan ada tidaknya penyesalan dari terdakwa.

Pengakuan Penampar 

Penampar Presiden Prancis mengaku bersimpati dengan gerakan demonstran anti pemerintah 'rompi kuning' dan condong ke aliran sayap kanan-jauh untuk aliran politiknya, namun tidak memiliki afiliasi partai.

"Dia menyatakan bahwa dia bertindak secara naluriah, dan 'tanpa berpikir' untuk mengekspresikan kekesalannya," demikian pernyataan kantor jaksa setempat, merujuk pada Damien.

Vonis Untuk Sang Penampar 

Pemuda berambut gondrong ini merupakan warga desa Saint-Villier dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Dia disebut sangat menggemari sejarah dan seni bela diri abad pertengahan, serta sempat meneriakkan seruan perang abad pertengahan saat menyerang Macron.

Penampar Presiden Prancis divonis dalam sidang yang digelar kilat. Damien Tarel (28) dijatuhi hukuman 18 tahun penjara oleh pengadilan, namun 14 bulan ditetapkan sebagai hukuman percobaan sehingga Tarel hanya akan mendekam di penjara selama empat bulan.

Tarel ditahan sejak melakukan tindak penyerangan terhadap Macron pada Selasa (8/6) waktu setempat. Dalam persidangan di kota Valence, jaksa menyebut tindakan Tarel itu 'benar-benar tidak bisa diterima' dan merupakan 'tindak kekerasan yang disengaja'[*]


Sumber artikel by Detikcom/Detiknews

Post a Comment

0 Comments