Nahas Pasukan Parang di Palagan Tiga Binanga

header img
 Ilustrasi pejuang Aceh. (Wikipedia).

“Tapi katanya berani menghampiri musuh dengan parang atau pedangnya. Mereka bertekad akan membunuh orang Belanda, yang dianggapya tetap menjadi musuh sejak zaman Belanda dahulu,” tutur Raja Sjahnan dalam Dari Medan Area ke Pedalaman dan Kembali ke Kota Medan.

Sebagai prajurit militan, reputasi pasukan parang dari Aceh ini bukan isapan jempol belaka. Mereka dikenal bernyali dengan bekal ilmu kelahi secara fisik. Di masa kolonial, Belanda cukup kewalahan menghadapi keganasan Pasukan Parang. Untuk meredam serangan pasukan Aceh yang ditakuti itu, yang sekali ayun dapat membelah bahu orang miring sampai ke jantungnya, “para prajurit Belanda mengenakan baju zirah primitif berupa lempengan kaleng rata pada tutup bahu seragamnya,” kata sejarawan militer Nino Oktorino dalam Seri Nusantara Membara: Perang Terang Terlama Belanda.

Dalam perang kemerdekaan, pejuang Aceh terpanggil kembali untuk bertempur melawan Belanda. Apalagi ketika Belanda menduduki kota Medan, mereka datang menjemput lawan dengan berjalan kaki dari Aceh. Mereka turun ke berbagai front, mulai dari Tanah Karo hingga kawasan pinggiran kota Medan. Di Medan Area, mereka sohor dengan nama “Kompi Parang Berdarah”.

Pasukan Bunuh Diri Indonesia

Sebagai komandan kompi, Raja Sjahnan merasa gembira dengan kedatangan Pasukan Parang ke tengah frontnya di Tanah Karo. Raja Sjahnan sendiri sempat bertanya dalam hati, apakah pejuang gaek ini mengetahui sistem pertempuran modern yang tentu berbeda dengan zaman Perang Aceh. Meski demikian, dia yakin saja Kapten Maaris akan mampu mengarahkan Pasukan Parang.

Uji coba pertama terjadi pada 24 Desember 1947. Pasukan Parang diminta mendahului penyerangan ke Tiga Binanga dan kampung Kuala dibantu satu seksi pasukan Kompi III. Penyerangan yang sedianya dilancarkan pada pukul 00.00 itu gagal lantaran terhadang oleh keadaan alam. Sungai yang akan diseberangi dalam keadaan banjir sehingga jalanan licin dan sulit untuk dilalui. Pukul 04.30, Pasukan Parang kembali ke basisnya di kampung Balang Dua karena hari mulai terang.

Penyerangan kembali direncanakan pada 30 Desember 1947. Pasukan Belanda di Tiga Binanga berjumlah sekira satu kompi (150-200 orang). Sekitar pos mereka terdapat benteng-benteng yang dilengkapi senjata otomatis. Setelah mendapat informasi itu, pasukan Kompi III dan Pasukan Parang bersiap melancarkan serangan.

Pukul 01.00 terjadilah tembak menembak dengan pasukan Belanda selama dua jam. Pasukan Parang bergerak dari sebelah utara. Sewaktu bergerak mendekati rumah sekolah, keberadaan Pasukan Parang digonggongi oleh anjing penjaga. Akibatnya, keberadaan mereka diketahui oleh pasukan Belanda yang segera memberondongnya dengan serentetan tembakan. Di tengah desing peluru, Pasukan Parang terpaksa mundur dan berlindung di jurang tepi sungai.

Waktu menunjukkan pukul 03.45 dan hari mulai terang. Letnan Raja Sjahnan memutuskan untuk menghentikan penyerangan. Pukul 04.00 pasukan diperintahkan undur diri ke Kampung Gunung dan tiba di kampung Kemkem pukul 05.00. Pada penyerangan yang gagal itu, seorang Tentara Republik dan seorang Pasukan Parang terluka akibat serangan balik Belanda. Selain itu, 3 orang Pasukan Parang terluka akibat jatuh ke jurang.

Menurut Raja Sjahnan, Pasukan Parang kesulitan bergerak di malam hari karena faktor usia. Keadaan tersebut dapat dipahami lantaran Pasukan Parang tidak berpengalaman dalam pertempuran jarak jauh maupun latihan perang modern. Semula Pasukan Parang menyangka cara berperang yang akan dilakoni sama seperti zaman dulu yakni perkelahian satu lawan satu.

Ketika bersitirahat, Raja Sjahnan mendatangi Kapten Maaris beserta pasukannya. Mereka bertukar pikiran membahas kegagalan serangan Pasukan Parang. Salah seorang anggota Pasukan Parang itu angkat suara mengenai kelemahan pasukannya.

“Bagaimanalah Nak, anggota Pasukan Parang ini umurnya sudah lanjut, sudah tua-tua, banyak yang sudah batuk-batuk. Bila kami bergerak, akan ribut, tentu ketahuan sama musuh lalu ditembaki dengan senapang mesin dari jauh. Bila kami bergerak pada siang hari, takut kapal terbang, malam hari tidak melihat dengan baik lagi. Oleh karena itu, Pasukan Parang ini lebih baik kembali saja ke kampung,” kata pejuang Aceh itu ditirukan Raja Sjahnan.

Setelah berdiskusi dengan Kapten Maaris, akhirnya diputuskan bahwa Pasukan Parang boleh kembali ke Kota Cane dan terus ke Blangkejeren. “Mereka sebagai pejuang, patut dihargai walaupun usianya sudah lanjut, tapi mempunyai semangat juang yang tinggi,” kenang Raja Sjahnan.[]

Sumber: Majalah Historia

Penulis: Martin Sitompul


Post a Comment

0 Comments