Lorong Gelap Seorang Jurnalis ! Rumahnya Dibakar, Disantet, Bahkan Diancam Akan Dibunuh


Bicaranya tegas tanpa emosi dan setiap garis kata dan kalimat selalu mempunyai Makna. Siapa dia ? Dia adalah Ade Rudi, wartawan senior, dapat pula dikatakan guru bagi penulis.

Dia sosok Jurnalis yang sudah kenyang makan Asam dan Garam serta pahitnya racun dipelataran muka bumi.

Roda kehidupan lekaki ini penuh cerita, suka dan duka dalam lembaran sejarah hidupnya sebagai wartawan. Berbagai peristiwa pun sempat dialaminya. Mulai dari ancaman mau dibunuh, rumahnya dibakar dan diserang ilmu santet.

Bahkan dari ketajaman tinta yang ditorehkannya ia sempat beberapa kali diperiksa pihak kepolisian.

Namun, hampir dua tahun lebih Ade Rudi tak ingin masuk kantor. 

Makan tidur, makan tidur dan tidur lagi. Awalnya ia tidak tau apa yang rerjadi dalam dirinya mengapa ia malas keluar rumah dan tak ingin masuk kerja seperti biasa.

Karena menjadi pengangguran, Ade terpaksa menjual barang - barang berharga untuk menutupi kebutuhan sehari harinya, termasuk untuk membayar kuliah tiga anaknya. 

Mulai dari perhiasan, mobil dan motor, semua habis dan ludes barang yang dimilikinya hingga tak ada lagi yang laku dijual.

"Itu kenyataan yang ada," aku Ade kepada jurnalis indonesia satu.

Seperti yang dikatakannya, peristiwa itu bermula ketika dirinya melakukan konfirmasi kepada seorang pejabat perihal tanah sengketa.

Masalah itu tercium wartawan lain, namun wartawan tidak membuat berita masalah sengketa, tapi menulis masalah pribadi oknum pejabat. 

Alhasil, oknum pejabat itu marah besar dan menuding Ade sebagai akar masalah.

Beberapa hari kemudian, Ade diperiksa pihak kepolisian, terutama masalah adanya berita yang menghebohkan.

Saat itu, Ade membantah dan menolaknya, karena berita itu bukanlah dimuat dan tayang di surat kabar dimana dirinya bekerja.

Setelah kejadian itu, ada perasaan aneh dalam tubuhnya. Ia pun kata Ade, mulai malas keluar rumah, seakan dunia ini sangat sempit serta lupa dengan nama - nama sahabat.

Belum lagi sadar apa yang terjadi dalam dirinya, Ade kedatangan sahabat dekatnya, Andi yang juga seorang wartawan yang saat itu dalam kondisi sakit struk, jalannya pun diseret - seret dan tak mampu bicara. Andi ketika itu kata Ade, diantar istri dan anaknya.

Mereka datang meminta bantuan untuk berobat, setelah itu mereka pulang.

Selain kedatangan Andi, Ade juga bertemu dengan Anto, seorang wartawan yang dikenalnya. Dia juga mengalami nasib yang sama terserang penyakit struk.

"Kalau bukan gara gara kamu , aku tidak begini," tegur wartawan itu kepada Ade. 

"Aku sudah tau yang ngerjain," katanya lagi.

"Kalau kamu punya salah minta maaf saja sama orang itu," saran Ade kepada sahabatnya. 

Tetapi Anto sahabatnya itu beranjak pergi dipapah kawannya karena tidak bisa berjalan.

Dua orang wartawan ini diduga ada kaitannya dengan berita dalam koran tentang oknum pejabat.

Beberapa minggu kemudian kedua Wartawan sahabatnya itu pun dikabarkan meninggal dunia. Ade tak ingin menuding siapa siapa, karena ia juga tidak tau akibat kematiannya.

Tragedi dan cobaan masih terus berlanjut, setelah kejadian itu anak gadis Ade terkena penyakit aneh dan terpaksa harus diungsikan kerumah Neneknya.

"Beberapa hari setelah itu, rumahku dibakar orang di malam hari," jelas Ade.

Seperti dikatakan, untungnya api dapat dipadamkan masyarakat sebelum melalap semua bangunan.

Resah dan gelisah terus menghantui Keseharian Ade. Istri dan anak - anaknya tidak tau apa yang menghantui pribadi ayahnya.

Ade terus berzikir dan Sholat tak pernah ia tinggalkan, bahkan Ade berserah diri kepada Allah SWT, sebagai sang pencipta.

Rohnya seakan dipanggil. Malam itu antara tidur dan tidak, Ade melihat tubuhnya berjalan dipinggir hutan. Ditengah hutan Ade bertemu dengan dua orang lelaki tua.

"Asalammualaikum," sapa Ade kepada orang itu. Tetapi kedua orang tadi terdiam tak menjawab.

"Kamu bersalah tidak," tegur orang itu, sambil menunjuk kearah Ade. 

"Demi Allah aku tidak bersalah," jawab Ade.

Hening sejenak dan saling pandang antara Ade dan orang tua.

"Pulanglah kamu," pinta orang tua misterius kepada Ade.

Esok harinya, Ade mendatangi rumah Marco sahabatnya Almarhum. Dari sahabatnya inilah kematian Andi dan Anto mulai terungkap.

Seperti diceritakan Marco, sore itu Ia menghadiri resepsi dirumah kawan. Tiba tiba ia didatangi orang tua.

"Kamu wartawan, kamu kenal  nama Orang ini," tanya orang itu sambil memperlihatkan nama nama diatas Secarik kertas.

"Orang - orang ini umurnya tidak lebih seratus hari," bilang orang tua sambil menunjuk nama yang ada tertulis diatas kertas.

Marco hanya terdiam sejenak melihat nama Ade ada dibarisan teratas. Lebih dari empat orang dalam daftar yang harus mati.

Mulanya Marco tidak percaya dengan ancaman itu, tetapi setelah mengantar Andi berobat semuanya terungkap dan sangat menyedihkan.

Sore itu seperti dikisahkan Marco, ia mengantar Andi berobat ke Tenjo, didaerah Serang bersama istri dan anak Andi.

Malam hari sesampainya di Tenjo mobil yang membawa Andi selif karena hujan deras. Jalan licin dan menanjak tidak bisa dilalui mobil. 

Semuanya lama terdiam , bingung dan panik. Tiba tiba Andi yang tidak bisa bicara dan lumpuh melompat keluar sambil mendorong mobil.

"Jalan..jalan terus," teriak Andi. 

Aku sudah sembuh, aku sudah sembuh," teriaknya keras.

Tentu saja yang ada di dalam mobil menjadi terkesima, sementara istri dan anaknya menangis histeris melihat dan mendengar orang tuanya bisa bicara dan berjalan. Tidak sekadar itu,  semua  yang ada didalam mobil merasa sedih, senang bercampur haru.

Aneh dan itulah kuasa Allah. Orang Lumpuh dan tidak bisa bicara mampu dorong mobil sampai tujuan. Ditempat ini Andi tidak berobat, bukan karena sudah sembuh tetapi karena Gurunya sudah meninggal 40 hari yang lalu.

"Kita pulang, aku sudah sembuh," pinta Andi disambut tawa dan senyum anak dan istrinya.

"Aku antar Andi sampai rumah, tetapi beberapa hari kemudian Andi dikabarkan meninggal dunia, " cerita Marco. 

"Sudah dua orang yang meninggal dan yang lain belum ada kabarnya,"  jelas Marco dalam pengakuanya kepada Ade.

"Alhamdulillah aku selamat dan dikasih umur Panjang. Tidak ada rekayasa manusia  yang mampu melawan kehendak Allah," tutur Ade mengisahkan. (jis/ep)


Sumber: PALOPOMEDIA

Post a Comment

0 Comments