Irwandi "Agam Batat" : Karena Saya Gam


Penulis : Felix Rodriguez
Dikutip Dari Facebook Felix Rodriguez

HABANANGGROE24.COM -Pasang surut kehidupan "Agam Batat" sebagai Juru Propanda GAM sangatlah tragis. Sosok yang selalu menentang kebijakan yang tidak pro-rakyat membuatnya harus menjalani kehidupan yang sangat tidak pantas dibalik jeruji besi. Padahal jasanya bagi negara ini cukup besar, namun Ia selalu menjadi target yang harus dibungkam karena fitnah yang diisukan oleh sekelompok orang bahwa Aceh akan melaksanakan referendum kembali untuk lepas dari RI dibawah kepemimpinannya. 

Wataknya yang keras dan berkarakter dalam membela kepentingan golongan lemah selalu menjadi ancaman bagi elit penguasa dipusat yang ingin mengeruk dan mengais kekayaan di bumi Aceh meutuah. "Agam Batat" paling banyak dimusuhi oleh lawan-lawan politiknya yang tidak ingin Aceh maju dan berkembang. Padahal, kalau rakyat menyadari bahwa sosok seperti dialah yang dibutuhkan Aceh dalam kondisi carut marut dan serba ketidakjelasan seperti sekarang ini.

Seperti penjelasan Soleman B Bonto yang menjabat Kepala BAIS (Badan Intelijen Strategis) pada 2011-2014 pesiunan Laksaman Muda TNI Angkatan Laut yang mengatakan bahwa "Agam Batat" punya peran yang sangat penting pada saat proses perdamaian Aceh bersama-sama dengan dirinya yang masuk dalam Aceh Monitoring Mission (AMM), lembaga yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan butir-butir perdamaian dalam MoU Helsinki.

Yang paling krusial menurut Pak Ponto adalah komitmen berdamai dengan pengumpulan  sejumlah senjata sebagaimana perjanjian Helsinki. “Agam Batat" berusaha keras agar perdamaian berjalan sesuai dengan MoU termasuk soal jumlah senjata yang dikumpulkan. Sampai-sampai pada pertemuan AMM ke-25, "Agam Batat" sempat ditarik dan posisinya digantikan wakil GAM lainnya. Pak Ponto menjelaskan sejak itu perundingan di AMM buntu. Akhirnya "Agam Batat" dipanggil lagi, sehingga perundingan kembali lancar.

Soleman Ponto juga menceritakan pada saat naik sebagai gubernur Aceh periode pertama pada tahun 2007-2012, "Agam Batat" diisukan akan memerdekakan Aceh. Ini disebarkan, dalam rangka menjatuhkan dirinya karena persaingan posisi jabatan gubernur.

Selaku kepala BAIS pada saat itu, Pak Ponto yakin 100 persen bahwa "Agam Batat" tidak akan membawa Aceh untuk merdeka. "Agam Batat" yakin melalui jalan MoU Helsinki, bahwa Aceh akan damai. Kalau mau damai bersiaplah untuk berkomit damai, bukan damai melalui perang, namun kalau perang kita siap untuk perang.

Soleman Ponto memastikan sampai saat ini pun sosok "Agam Batat" sangat dibutuhkan di Aceh, terutama dalam menjaga perdamaian dan pembangunan Aceh. Mantan kepala BAIS itu juga menegaskan bahwa MoU Helsinki yang menjadi dasar tercapainya perdamaian Aceh setelah 30 tahun berkonflik, belum selesai dijalankan oleh Pemerintah Pusat.

Penjelasan Soleman Ponto sebagai pelaku sejarah yang mewakili RI dalam perundingan Helsinki seperti yang dituliskan diatas merupakan fakta yang dialaminya, bahwa begitu besar jasa "Agam Batat" untuk negara ini yang dihargai dengan sebuah bilik jeruji besi dengan tuduhan korupsi. 

Padahal fakta persidangan kasus "Agam Batat" tidak ada satupun dari 54 saksi yang mengatakan bahwa Ia melakukan korupsi. Persidangan yang berlangsung 20 kali selama hampir 5 bulan tersebut terkesan seperti membangun sebuah kesimpulan dan asumsi bahwa "Agam Batat" harus bersalah. "Allah Maha Adil dan Bijaksana atas segala bentuk kezaliman diatas muka bumi"

#kembalikanpemimpinaceh
#saveirwandiyusuf
#tolakkriminalisasigubernuraceh

Post a Comment

0 Comments