Derita Rohingya: Isu Traficking Dibalik Terdamparnya Mereka di Pulau Idaman Kuala Simpang Ulim


Foto : Perempuan Rohingya yang terdampar di Kuala Simpang Ulim, Aceh Timur. Foto - Reuters

Simpang Ulim, Aceh Timur – Sehari setelah kedatangan manusia perahu, nama julukan terhadap warga Rohingya yang terdampar di Kuala Simpang Ulim Aceh Timur, Kamis pagi (3/6), sejak itu spekulasi negatif mulai muncul di beberapa kalangan masyarakat Aceh Timur, termasuk awak media yang melakukan liputan di lokasi pengungsian.

Spekulasi negatif muncul entah disebabkan kecurigaan dan tanda -tanda keanehan yang terdapat dari kapal yang mereka tumpungi yang tergolong kapal bagus jenis kapal Ferri, didukung peralatan sekoci/speedboat, beda dengan perahu/boat yang mereka tumpangi sebelum nya yang sempat terdampar di Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur dan daerah lain beberapa tahun yang lalu dengan perahu seadanya.

Selain kapal tergolong mewah, para penumpang 81 etnis Rohingya yang terdiri dari pria, dewasa, wanita dan 9 anak-anak sedikit tampak sehat dan segar tidak tampak kelaparan di wajah mereka, layak nya pengungsi yang terlunta-lunta lama di lautan.

Heran nya, ke 81 etnis Rohingya yang terdampar kali ini mengantongi Id Card/refugee UNHCR, hal itu menunjukkan bahwa mereka pengungsi Rohingya yang berada dibawah perlindungan/suaka politik PBB.

Bagi masyarakat dan Pemerintah Aceh Timur memperlakukan dengan baik sebagai saudara seiman(muslim) dengan diberikan bantuan dan pendirian tenda untuk tinggal sementara waktu. Sambil menunggu perkembangan dan keputusan Forkopimda Aceh Timur. Meski sempat beredar info sebelum nya pihak berwenang berencana untuk mendorong kembali mereka ke laut, dengan alasan pertimbangan pandemi covid-19 dan alasan lain pun bahwa tujuan mereka bukan ke Indonesia tapi hanya sebagai negara transit bagi mereka.

Kembali ke isu traficking, kehadiran 81 etnis Rohingya di Simpang Ulim, sumber lain menyebutkan bahwa diantara rombongan Rohingya wajah nya tidak asing lagi, beberapa pria pernah dikenal saat terdampar sebelum nya, sebagaimana diketahui di Kabupaten Aceh Timur saja sebelum nya sudah dua kali terdampar etnis Rohingya yang pertama pada Januari 2009 di Idi Rayeuk sejumlah 127 orang dan Julok pada Mei 2015 sebanyak 374 orang.

Beberapa pihak mensinyalir, kehadiran pengungsi Rohingya ada oknum agency antar Internasional yang memobilisasi dan mengkondisikan. Etnis Rohingya yang tertindas dinegaranya oleh Pemerintah Myanmar terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri dari upaya genocide, menyelamatkan diri melalui jalur laut sehingga mereka terdampar ke beberapa negara, salah satunya adalah Indonesia.

Oknum agen mencoba memanfaatkan peluang penderitaan Rohingya untuk meng ekploitasi sebagai komoditas politik maupun bisnis hitam yaitu bisnis perdagangan manusia.

Kecurigaan adanya mafia traficking tentu sangat beralasan, hal itu berpengalaman terjadi kasus di Kota Lhokseumawe sebagimana dikutip media ini yang dilansir dari Detik.com edisi Nov 2020
Satgas Penanganan Pengungsi Rohingya Kota Lhokseumawe menangkap tiga terduga pelaku penyelundupan imigran etnis Rohingya, mereka ditangkap di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Lhokseumawe.

Pembina Satgas Penanganan Pengungsi Rohingya Kota Lhokseumawe Letkol Arm Oke Kristianto mengatakan ketiganya diduga berencana membawa kabur sejumlah pengungsi etnis Rohingya dari Balai Latihan Kerja (BLK) Lhokseumawe.

Sebelumnya, Direskrimum Polda Aceh, Kombes Sony Sonjaya, mengatakan penyelundupan 99 imigran Rohingya pada Juni 2020 itu diduga dilakukan atas perintah seorang warga Rohingya yang ditampung di Medan, berinisial AR. AR disebut sudah berada di penampungan sejak 2011.

Salah satu aktor yang memberi perintah menjemput puluhan Rohingya tersebut adalah AR yang masih diburu polisi. Dalam kasus ini, AR juga melibatkan imigran Rohingya lain yaitu SD.

“Aktornya dari Medan. Dia tinggal di Medan di bawah akomodasi IOM,” ujar Sony, dalam konferensi pers di Mapolda Aceh, Selasa (27/10/2020) lalu.

Saat ini pihak UNHCR, IOM serta Imigrasi Langsa telah melakukan pendataan terhadap 81 etnis Rohingya dan selanjut nya mereka akan dibawa ke Kota Medan Sumatra Utara.


Optina Avanti Protection Associate UNHCR Indonesia mengatakan, pihak UNHCR Indonesia akan mengambil langkah lanjutan dan akan berkoordinasi dengan semua pihak.

Aktivis Kemanusian Aceh Timur Zulkifli mengungkapkan keprihatinan nya bila ada upaya pihak-pihak tertentu yang bermain untuk mencari keuntungan bisnis dari penderitaan etnis Rohingya.

“Itu bisa menjadi presedent buruk ditengah empati masyarakat muslim dunia, dimana solidaritas terhadap warga Rohingya semakin mendunia, jadi jika ada pihak-pihak yang bermain harus ditangkap,” tegas Zulkifli Aneuk Syuhada.


Sumber : Suaraindonesia-news.com
Reporter : Masri
Editor : Redaksi
Publisher : Syaiful

Post a Comment

0 Comments