Berita Duka: Tgk Amir Mahmud, Tokoh GAM Meninggal Dunia di Singapura

Tgk Hasan Tiro (duduk kiri) bersama Meuntro Amir Rasyid bin Mahmud saat pulang ke Aceh pada 11 Oktober 2008 Foto: Suparta


Innalillahi wainna ilaihi rajiun, telah berpulang ke Rahmatullah salah seorang tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Tgk Amir Rasyid bin Mahmud (94 tahun) di Singapura, sekitar pukul 04.00 waktu setempat, Jumat (4/6/2021). Berita duka tersebut kami peroleh dari akun resmi Partai Aceh di instagram.

Tgk Amir atau kerap disapa Meuntroe Amir, lahir di Singapura pada 1927. Ayah beliau adalah Haji Mahmud, saudagar Aceh di Singapura. Sementara adik beliau adalah Tgk Malik Mahmud Al-Haythar, mantan Perdana Meuntroe GAM yang kini menjabat sebagai Wali Nanggroe Aceh.

Meuntroe Amir ikut Aceh Merdeka sejak dideklarasikan pada 4 Desember 1976 oleh Tgk Hasan Muhammad Di Tiro. Beliau masuk dalam kabinet Aceh Merdeka sebagai Menteri Perdagangan.

Sepanjang hidupnya, beliau pernah terlibat dalam tiga perang, yaitu; perang dunia kedua bersama Inggris, Perang DII/TII di Aceh dan Indonesia, dan terakhir bersama GAM. (Bagian ini akan kami tuliskan selanjutnya)

Sampai akhir hayatnya, beliau berstatus warga negara Singapura, kendati kerap pulang ke Aceh. Di antaranya saat menemani Tgk Hasan Tiro pulang pada 1969. Saat itu perang DI/TII telah berakhir di Aceh, dan Aceh Merdeka belum dideklarasikan.

Damai akhirnya hadir pada 15 Agustus 2005, setelah Pemerintah Indonesia dan GAM setuju menghentikan perang dalam sebuah kesepakatan yang ditanda-tangani di Helsinki, Finlandia. Belakangan dikenal dengan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki.

Pada 11 Oktober 2008, Tgk Hasan Tiro kembali ke Aceh, Meuntroe Amir ikut menemani kala itu. Mereka disambut puluhan ribu warga Aceh di bandara Sultan Iskandar Muda dan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Meuntroe Amir (duduk kiri) dan adiknya Tgk Malik Mahmud Al-Haythar, saat kami bertemu pada 11 Agustus 2018. Dok. acehkini

Meuntroe Amir terakhir pulang ke Aceh pada Agustus 2018, bertepatan dengan peringatan damai Aceh ke-13. Saat itulah, ditemani Tgk Malik Mahmud dan Staf Khusus Wali Nanggroe, DR Rafiq, kami sempat bertemu terakhir kali di Meuligoe Wali.

Seharian penuh, Meuntroe Amir bercerita banyak tentang kisah hidupnya, termasuk sejumlah rahasia. []



Sumber artikel by Kumparan.com

Post a Comment

0 Comments