ANDA TAHU, TIDAK SEMUA BID'AH SESAT

Imam Muhammad Waliyuddin As Syabsiri dalam Syarah Arba’in Nawawi mengupas pengertian Hadits Nabi yang berbunyi :

ﻣَﻦْ ﺃَﺣﺪَﺙَ ﺣَﺪَﺛًﺎ ﺍَﻭْ ﺁﻭَﻯ ﻣُﺤﺪﺛًﺎ ﻓَﻌَﻠﻴﻪِ ﻟَﻌْﻨَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ

Barang siapa menciptakan perkara baru atau melindungi pencipta perkara baru maka dia berhak mendapatkan laknat Allah.

Hadits tersebut diatas memasukkan berbagai bentuk bentuk bid’ah seperti Aqad fasid, memberi hukum tanpa Ilmu, penyelewengan dan semua hal yang tidak sesuai dengan syari’at. Namun apabila perkara baru itu masih sesuai dengan qonun syari’at maka tidak termasuk kategori bid’ah.

Syaikh Izzuddin ibni Abdis Salam menggolongkan perkara baru ( Bid’ah ) menjadi lima hukum yaitu :

1. Bid’ah wajib seperti : Mempelajari ilmu nawu, dan lafad-lafad yang gharib dalam Al-Qur’an dn Hadits dan semua disiplin ilmu yang menjadi perantara untuk memahami syari’at.

2. Bid’ah Haram seperti : Faham Madzhab Qadariah (mengingkari takdir), Jabariah (terpaksa oleh takdir tanpa mau usaha) dan Mujassimah (menyerupai allah dengan mahkluk).

3. Bid’ah Sunnah Seperti : Mendirikan Pondok, Madrasah dan semua perbuatan baik yang tidak pernah ditemukan pada masa dahulu.

4. Bid’ah Makruh Seperti : Menghias MAsjid dan Al-Qur’an.

5. Bid’ah Mubah seperti : Mushafahah (Jabat tangan) setelah Shalat Subuh dan Ashar dan lainnya.

KRITERIA PENGGOLONGAN BID'AH

Dalam menggolongkan perkara baru yang menimbulkan konsekwensi hukum yang berbeda-beda, Ulama’ telah membuat tiga kriteria dalam persoalan ini.

1. Jika perbuatan itu mempunyai dasar yang kuat berupa dalil-dalil syar’i, baik parsial ( juz’i ) atau umum, maka bukan tergolong bid’ah, dan jika tidak ada dalil yang dibuat sandaran, maka itulah bid’ah yang dilarang.

2. Memperhatikan apa yang menjadi ajaran ulama’ salaf ( Ulama’ pada abad I,II dan III H , jika sudah diajarkan oleh mereka, atau memiliki landasan yang kuat dari ajaran kaidah yang mereka buat, maka perbuatan itu bukan tergolong Bid’ah.

3. Dengan jalan Qiyas.


Sumber: Fb Adam Al Asyi

Post a Comment

0 Comments