5 Rukun Khutbah Jumat yang Harus Dipelajari agar Salat Sah. Tidak Bisa Sembarangan Berkhutbah!

Khutbah adalah salah satu bagian dalam salat Jumat. Sebagai pengkhotbah, seseorang harus memenuhi lima rukun khutbah Jumat.

Salat Jumat adalah aktivitas ibadah yang wajib dilakukan seorang pria Muslim.

Salah satu syarat agar salat Jumat sah adalah adanya khotbah.

Hal itu juga telah disebut oleh Imam Nawawi dalam kitab Munhaj al-Thalibin wa ‘Umdatul-Muftin pada bab salat Jumat.

Nabi Muhammad Saw pun pernah bersabda, “Salatlah kalian sebagaimana kalian melihatku salat”.

Selama hidupnya, Nabi Saw pun selalu melakukan salat Jumat dengan didahului dua khotbah.

Namun, untuk melakukan khotbah pun tidak bisa sembarangan.

Ada sejumlah syarat dan rukun yang harus dipenuhi seseorang ketika hendak berkhotbah.

Melansir nu.or.id, kali ini 99.co Indonesia akan membagikan informasi mengenai lima rukun khutbah Jumat yang bisa kamu pelajari.

5 Rukun Khutbah Jumat agar Salat Sah

1. Pujian kepada Allah Swt

sumber: Freepik.com/jcomp

Saat melantunkan pujian kepada Allah, kita pun tidak bisa sembarangan.

Gunakanlah lafaz yang mengandung “hamdun” dan kata-kata yang memiliki satu akar, semisal “alhamdu”, “ahmadu”, dan “nahmadu”.

Beberapa contoh pelafalan yang benar, di antaranya adalah “alhamdu lillâh”, “nahmadu lillâh”, “lillahi al-hamdu”, “ana hamidu Allâha”, dan “Allâha ahmadu”.

Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Syek Ibnu Hajar al-Haitami dalam al-Minhaj al-Qawim Hamisy Hasyiyah al-Turmusi, Jedah, Dar al-Minhaj, 2011, juz 4, hal. 246

2. Membaca Shalawat

Salah satu elemen penting dalam khotbah adalah zikir kepada Allah Swt dengan berbagai pujian kepadaNya.

Dalam zikir, Allah Swt juga mewajibkan seorang Muslim untuk menyebut nama Nabi Muhammad Saw.

Maka dari itu, setelah menyampaikan pujian kepada Allah Swt, diwajibkan juga membaca shalawat kepada Nabi Saw.

Dalam pembacaan shalawat, kita harus mengguankan kata “al-shalatu” dan lafaz yang satu akar dengannya.

Kemudian, untuk penyebutan asma Nabi Muhammad yang tidak menyebutkan nama “Muhammad”, bisa menggunakan beberapa penyebutan, semisal “al-Rasul”, “Ahmad”, “al-Nabi”, “al-Basyir”, “al-Nadzir

Berikut contoh shalawat yang benar:

  • ash-shalâtu ‘alan-Nabi”;
  • ana mushallin ‘alâ Muhammad”;
  • ana ushalli ‘ala Rasulillah”.

3. Berwasiat dengan Ketakwaan

sumber: nyarung.id

Nah, pada rukun khutbah Jumat yang ketiga ini sebenarnya tidak ada ketentuan redaksi yang saklek.

Namun, seorang khatib harus mengajak umat untuk lebih taat kepada agama dan menjauhi kemaksiatan.

Pesan tersebut tidak masalah panjang atau pendek, karena selama mengucap “Athi’ullah”, maka sudah cukup sebagai wasiat takwa.

4. Membaca Ayat Suci Al-Qur’an

Rukun khutbah Jumat yang keempat adalah pembacaan ayat suci Al-Qur’an di salah satu dari dua khotbah salat Jumat.

Ayat suci yang dibacakan dapat berupa janji-janji, ancaman, mauizhah, cerita, dan lain-lain.

Seorang khatib memiliki kebebasan memilih ayat apa yang dibacakan dari ayat Al-Qur’an.

Sebenarnya, khatib juga diberi kebebasan untuk membacakan ayat suci Al-Qur’an pada khutbah pertama atau kedua.

Namun, banyak ulama menganjurkan agar pembacaan ayat dilakukan pada khotbah pertama.

5. Berdoa untuk Kaum Mukmin

Rukun khutbah Jumat yang terakhir adalah memanjatkan doa untuk kaum mukmin.

Doanya pun bukan sekadar doa biasa, tetapi mengarah kepada kehidupan di akhirat.

Berikut adalah contoh doa yang biasa dilantunkan:

  • allahumma ajirnâ minannâr, ya Allah semoga engkau menyelematkan kami dari neraka”.
  • allâhumma ighfir lil muslimîn wal muslimât, ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat”.

Biasanya, doa ini dilakukan pada sesi khotbah kedua karena mengikuti ulama salaf dan khalaf. (99.co)

Post a Comment

0 Comments