YLKI provinsi Gorontalo : Momen Idul Fitri 1442 H Jaga tali Silaturahmi, Juga dalami spiritualitas

Kabar a-tim | Gorontalo - Bendahara Umum Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Provinsi Gorontalo Wiliska Patamani sebelumnya mengucapkan Minal aidin 
wal faidzin mohon maaf lahir dan batin selamat hari raya Idul fitri 1442 H meski di tengah Corona momentum Hari Raya Idul Fitri memberikan nuansa yang berbeda jika dibanding dengan hari lainnya. Sebab, hari tersebut adalah waktu mulia untuk saling memafkan dan bersilaturahim sesama Keluarga besar YLKI Provinsi Gorontalo dan lainnya. Ahad 16/05/2021.


Wiliska mengatakannya bahwa berkumpul dan bersilaturahmi bersama keluarga besar telah menjadi tradisi umat Muslim saat merayakan hari Raya Idul Fitri.

Lalu hari raya Idul Fitri adalah salah satu momen yang tepat untuk mempererat tali silaturrahim dan memperkuat hubungan persaudaraan sesama muslim dan sesama anak bangsa hingga sesama keluarga besar YLKI provinsi Gorontalo. "Ucap Wiliska"

Musim pandemi janganlah menghalangi  untuk bersilaturrahim dan saling bertutur kata yang jujur. Bersilaturah bisa dilakukan dengan berbagai moment. Jika tidak memungkinkan dengan bertemu fisik, maka bisa diganti dengan pertemuan secara daring saja.

Akan tetapi, di tengah pandemi virus corona yang masih melanda di negeri ini, memaksa semua orang untuk tetap di rumah, meminimalisir pertemuan dan mobilitas, sehingga tak bisa merayakan Lebaran seperti dalam kondisi normal. " tutur Wiliska"

Selaku Bendum YLKI provinsi Gorontalo serta Chef MaQna Hotel Wiliska Patamani ini memberikan refleksinya terhadap Lebaran di tengah pandemi, menurut dia, pandemi Covid-19 bisa jadi merupakan cara untuk mengingatkan umat Islam di provinsi Gorontalo agar mejaga tali silaturahmi, memperkuat spiritualitas ruh atau penghayatan pribadi. 

"Itu bukan di ranah publik, tapi ranah privat yang sifatnya menjaga tali silaturahmi, memperdalam spiritualitas," kata Wiliska kepada awak Kabar a-tim (7/5/2021) kemarin.

"Di tengah pandemi ini, seharusnya itulah yang dipertajam, yaitu beribadah dengan spiritualitas yang tinggi," lanjut dia.

Nah dalam Islam, beribadah memiliki beberapa tingkatan atau kategori. 

Pertama, orang yang beribadah tapi hanya bentuk raganya atau disebut dengan at-ta'abbud jasmani, misalnya shalat dan puasa. Kedua, beribadah jiwanya, kesadarannya, dan pikirannya atau yang disebut dengan at-ta'abbud nafsani.

Dan yang ketiga atau yang paling tinggi adalah beribadah dengan spiritualitas serta jangan memutuskan tali silaturahmi ruh atau at-ta'abbud bit tahannusir ruh.

Seharusnya dengan pandemi, ibadah kita ya seperti itu, karena di ranah publik itu harus dihindari dan dibatasi," kata wiliska"

Bagi seseorang yang telah mencapai tingkat spiritualis, ibadah-ibadah itu mampu mempertajam kesadarannya dan memiliki daya perintah untuk terus berbuat baik, jujur serta menjaga silaturahmi agar tetap kokoh dan bersatu walau sering ada perbedaan pendapat karena itu merupakan hal biasa asalkan persatuan yang di jaga serta silaturahmi paling utama.  "Pungkas wiliska" ahad 16/05/2021.

Reportase : Zulkarnain

Post a Comment

0 Comments