Kudeta Semakin Panas, Kelompok Pemberontak Myanmar Serukan Pasukan Etnis Bersatu Lawan Militer

Kelompok Pemberontak Myanmar Serukan Pasukan Etnis Bersatu Lawan Militer
Senin, 3 Mei 2021 | 14:23 WIB

 
Letnan Jenderal Baw Kyaw Heh dari KNU (kelompok pemberontak Myanmar) menyerukan persatuan di antara pejuang etnis di timur Myanmar. 


KABAR A-TIM | NAYPYIDAW - Kelompok pemberontak terkemuka di Myanmar timur meminta pasukan etnis lain untuk bersatu melawan militer, saat negara itu memasuki bulan keempat di bawah rezim junta.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak pemimpin sipil Aung San Suu Kyi digulingkan dalam kudeta 1 Februari, yang memicu pemberontakan massal di seluruh negeri.

Ketika pasukan keamanan telah mengerahkan kekerasan mematikan terhadap warga sipil untuk menekan gerakan anti-junta yang gigih, pasukan etnis Myanmar telah menyerukan penentangan terhadap militer.

Oposisi yang paling menonjol adalah Persatuan Nasional Karen (KNU). Kelompok pemberontak ini mengakui menawarkan perlindungan bagi para pembangkang, yang melarikan diri ke wilayah yang mereka kuasai di sepanjang perbatasan timur Myanmar.

Bentrokan telah meningkat di negara bagian Karen antara pejuang KNU dan militer.

Pekan lalu pemberontak menyerang dan menghancurkan pangkalan militer. Junta membalas dengan serangan udara dan peluncur roket yang ditujukan ke wilayah yang dikuasai pemberontak.

Pada Minggu (2/5/2021), setelah lima hari serangan udara, wakil kepala staf untuk sayap bersenjata KNU menulis surat terbuka. Mereka menyerukan kepada semua pejuang etnis Karen untuk bersatu, terlepas dari kesetiaan mereka.

"Belum pernah ada kesempatan sebesar ini selama 70 tahun lebih revolusi. Manfaatkan ini dan berperang melawan kediktatoran militer Burma," kata Letnan Jenderal Baw Kyaw Heh melansir AFP.

"Dalam generasi kita, mari kita bersatu ... untuk melepaskan diri dari kediktatoran militer."

Baca juga: Setidaknya 8 Orang Kembali Dilaporkan Tewas dalam Protes Anti-kudeta Myanmar

Suratnya ditujukan kepada dua kelompok pemberontak lainnya di negara bagian Karen, yaitu Tentara Buddha Karen Demokrat dan Dewan Perdamaian KNU / KNLA, sebuah kelompok yang dibentuk oleh seorang mantan komandan KNU.

Kedua kelompok itu tetap bungkam sejak kudeta.

Media yang dikelola pemerintah pekan lalu melaporkan bahwa pejabat kelompok itu telah bertemu dengan junta dalam pertemuan terpisah, untuk membahas "proses perdamaian".

Baw Kyaw Heh juga menyerukan persatuan di antara pejuang etnis Karen di Pasukan Penjaga Perbatasan (BGF), subdivisi militer Myanmar yang terdiri dari mantan pemberontak etnis.

"Jadi BGF, karena Anda adalah Karen, Anda perlu memikirkannya dengan hati-hati dan membuat keputusan yang tepat," katanya. "Orang Karen seharusnya tidak saling membunuh."

Myanmar memiliki lebih dari 20 kelompok pemberontak etnis. Banyak di antaranya menguasai wilayah perbatasan negara Asia Tenggara ini.

Perjuangan yang menghancurkan untuk mendapat otonomi, kendali atas produksi obat-obatan yang menguntungkan, dan sumber daya alam, telah lama mengadu domba mereka satu sama lain dan dengan militer.

Sejak kudeta, selain memerangi KNU di timur, junta juga terlibat dalam penembakan artileri dan serangan udara terhadap Tentara Kemerdekaan Kachin di utara.

Namun, AFP melaporkan persatuan di antara kelompok pemberontak tampaknya merupakan prospek yang akan sulit tercapai. Ini mengingat pertempuran mereka dan ketidakpercayaan umum terhadap mayoritas etnis Bamar di Myanmar.(*)


By KOMPAS.com

Post a Comment

0 Comments