Di Mana Raja Salman dalam Konflik Israel-Palestina di Gaza?

Raja Salman, Foto: Reuters

Jakarta - Bukan rahasia lagi kalau Arab Saudi adalah negara yang paling berpengaruh di Timur Tengah. Meski tak memiliki hubungan dengan Israel, monarki tersebut disebut-sebut sejumlah sumber menilai, "memberikan" restu pada keputusan tetangganya Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk membuka hubungan dengan Israel di 2020.
Langkah dua negara itu juga diikuti Sudan dan Maroko. Meski dikecam Palestina karena berdamai dengan Israel, negara-negara tersebut menyebut langkah tersebut menguntungkan.

Israel, kata mereka, akan membatalkan rencananya untuk mencaplok Tepi Barat. Wilayah ini merupakan area lain Palestina selain Jalur Gaza.

Lalu bagaimana sikap Arab Saudi pada kekerasan yang sudah seminggu ini meningkat di Gaza?

Raja Arab Saudi, Salman Bin Abdulaziz Al Saud, mengecam tindakan Israel di Yerusalem dan tindakan kekerasan yang dilakukan di masjid Al-Aqsa. Ini terungkap dalam panggilan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan pekan lalu.

Melansir Saudi Gazette Raja Salman menegaskan Arab Saudi mendukung rakyat Palestina dalam mengejar hak-haknya. Namun sayangnya belum ada solusi pasti yang disebutkan terkait penyelesaian konflik yang kini makin memanas.

Sebelumnya, sejumlah pemimpin dunia juga membahas kekerasan yang terjadi antara Israel dan Palestina. Di antaranya Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Erdogan mengatakan kepada Putin bahwa komunitas internasional perlu memberi "'pelajaran" kepada Israel. Ia berupaya untuk memobilisasi reaksi ini.

Erdogan juga menyerukan agar dikirimkannya penjaga perdamaian internasional ke wilayah tersebut untuk membantu melindungi Palestina. Bahkan hal ini sudah disampaikan Turki sejak 2018.

Baca: Ada Apa AS? Biden Blokir DK PBB soal Damai Israel-Palestina
Namun belum ada aksi berarti yang dilakukan dunia. Terakhir pernyataan sikap Dewan Keamanan PBB, yang dibahas Senin terkait penghentian kekerasan diblokir AS.

Secara rinci teks terbaru DK yang dianulir AS menyerukan penurunan ketegangan, penghentian kekerasan dan penghormatan pada hukum humaniter internasional. Termasuk perlindungan warga sipil termasuk anak-anak.

Pernyataan itu menyuarakan keprihatinan besar pada apa yang terjadi di Gaza. Termasuk keprihatinan amat serius pada penggusuran keluarga Palestina dari rumah mereka di Yerusalem Timur karena tindakan sepihak Israel yang mungkin akan makin meningkatkan ketegangan di masa depan.

Rancangan naskah juga menyuarakan dukungan untuk solusi damaI dua negara. Di mana harus ada negosiasi yang memungkinkan Israel dan Palestina hidup berdampingan dengan damai dalam perbatasan yang aman dan diakui.

Hingga kini serangan Israel ke Palestina masih terjadi. Associated Press menyebut Israel menggelar serangan besar-besaran di sejumlah titik di Gaza. Ini merupakan pekan kedua peperangan terjadi. Perang yang tidak seimbang itu telah menewaskan 212 warga Palestina.

Sebanyak 61 orang adalah anak-anak dan 36 orang merupakan perempuan. Jumlah korban luka-luka saat ini mencapai lebih dari 1.400 orang. Sementara itu korban jiwa di pihak Israel mencapai sepuluh orang. Di antaranya adalah seorang perawat asal India, seorang anak berusia lima tahun dan seorang tentara.

(Kabar a-tim/CNBC Indonesia)

Post a Comment

0 Comments