Aktivis Katolik: Instruksi ‘Jenderal Tua’ FPI Jadi Teroris Sehingga Kasus 50 KM Tutup Buku


Tim Detasemen Khusus Anti Teror 88 mengumpulkan barang bukti usai menggeledah bekas Sekretariat Front Pembela Islam (FPI) di Jalan Petamburan III, Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Selasa (27/4/2021) malam. Densus Antiteror menyita bahan berbahaya berbentuk bubuk dalam penggeledahan di bekas Kantor FPI, kawasan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Penggeledahan dilakukan terkait penangkapan mantan petinggi FPI Munarman, soal dugaan tindak pidana terorisme. BeritaSatu Photo/Joanito De Saojoao.

Kabar a-tim | Jakarta -- FPI sengaja diarahkan menjadi organisasi teroris atas perintah ‘jenderal tua’ sehingga kasus pembunuhan enam Laskar FPI tidak dilanjutkan alias tutup buku.

“Instruksi “Jendral Tua” kepada Polisi, yang kabarnya menuntut sebelum hari Lebaran FPI harus sudah diumumkan sebagai organisasi teroris, sehingga tragedi KM 50 bisa tutup buku,” kata aktivis Katolik Aloysius Hartono dalam artikel berjudul “Munarman Teroris? Baik Pak Polisi. Markas FPI Pabrik Bom? Baik Pak Polisi”

Kata Aloysius Hartono, FPI sengaja dijadikan organisasi teroris agar para dalang pembunuhan enam Laskar FPI tidak masuk penjara. “Para eksekutor dan aktor intelektual nya aman semuanya tidak ada yang ditangkap apalagi dipenjara,” ungkapnya.

Aloysius Hartono mengatakan, ‘Jendral Tua hingga kini masih terus gelisah dan ketakutan, karena anaknya juga terlibat dalam Operasi Delima, pengintaian di Pesantren Megamendung FPI yang berujung penembakan terhadap 6 Laskar FPI.

Sehingga apabila kasus KM 50 ini diusut tuntas secara jujur dan transparan, anak si Jendral Tua pasti akan duduk di kursi pesakitan untuk diadili.
“Hal itu tidak bisa diterima oleh Jendral Tua, karena anaknya sudah lama ia persiapkan untuk menjadi tokoh dan pemimpin negeri ini. Jendral Tua yang tangannya berlumuran darah Munir dan warga Talangsari ini sudah sadar ia tak lama lagi hidup di dunia rupanya,” jelasnya.

Terkait penangkapan Munarman, kata Aloysius Hartono selain bagian dari upaya penterorisan FPI, ini juga upaya “darurat’ untuk menyelamatkan muka Jaksa Penuntut Umum, majelis Hakim, kepolisian dan pemerintah Jokowi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

“Karena Munarman telah menyusun dan memimpin pembelaan yang luar biasa terhadap HRS dan lainnya, sehingga pihak Jaksa pun kewalahan sejak hari pertama persidangan,” paparnya.

Solusi tercepat mereka untuk menghindari dipermalukan Munarman ya cuma satu: Munarman harus ditangkap dan dipenjarakan, sehingga tidak lagi harus mereka hadapi di ruang persidangan.

Menurut Aloysius Hartono, Munarman adalah “monster”, mimpi buruk yang sulit mereka hadapi secara head to head di ruang sidang. Karena itu penangkapan Munarman ini tentu sangat menguntungkan Jaksa.

“Ironisnya, berbagai diskriminasi dan ketidakadilan ini semuanya telah dipertontonkan oleh penguasa dan aparat tanpa rasa malu,” pungkasnya.

(Suaranasional.com)

Post a Comment

0 Comments