Jemaah Haji Indonesia Terancam Batal Berangkat, Arab Saudi Ungkap Alasannya...

Jemaah Haji Indonesia Terancam Batal Berangkat, Arab Saudi Ungkap Alasannya...Kredit Foto: Antara/Sultan Al-Masoudi/Handout via REUTERS


Kabaracehtimur.online -- 

Arab Saudi akan membuka penerbangan internasional mulai 17 Mei mendatang, terkait pembatasan pandemi Covid-19. Meski demikian, Saudi tetap menerapkan larangan masuk (travel ban) bagi Indonesia bersama 19 negara lainnya.

Disebutkan, warga, diplomat, praktisi kesehatan, serta anggota keluarga dari negara-negara yang masuk daftar tersebut telah dilarang masuk sejak 3 Februari. Aturan juga berlaku bagi warga dari negara lain yang melakukan kunjungan ke 20 negara tersebut dalam 14 hari terakhir.

Travel ban ini tentu terasa mengecewakan, terkait musim haji 2021 ada di depan mata.

Secara terpisah, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku tengah melobi Pemerintah Arab Saudi untuk meloloskan calon jemaah haji Indonesia.

Pemerintah Arab Saudi mem­berikan syarat telah divaksin bagi jemaah yang akan berang­kat haji. Akan tetapi, Saudi be­lum menjelaskan lebih jauh peri­hal kuota dan negara mana saja yang akan diberi izin masuk.

Kebijakan ini dikeluarkan negara itu lantaran Sinovac be­lum memperoleh Emergency Use Listing (EUL) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Semua calon haji di atas 60 tahun kita sudah suntik semua. Kita sudah lobi ke Pemerintah Arab Saudi untuk menerima (jemaah yang disuntik vaksin Sinovac). Kita bilang, kita sudah vaksin, tolong dibantu. Kita negara Muslim terbesar, kalau terlambat (diberangkatkan haji), kasihan,” kata Budi, saat webi­nar belum lama ini.

Meskes juga telah melobi Sinovac dan WHO untuk segera mengeluarkan EUL. Langkah ini diperlukan agar memperlancar proses keberangkatan haji bagi jemaah Indonesia, bila Saudi membuka pintu haji tahun ini.

Sakleknya aturan Saudi terhadap warga asing, tak lepas dari upaya negara itu memutus rantai penularan Covid-19. Kemente­rian Kesehatan Saudi pada Rabu (21/4/) melaporkan penambahan 12 kasus kematian akibat Covid-19. Jadi, total korban meninggal menjadi 6.858 orang.

Selain itu, ada penambahan 1.028 kasus infeksi baru, sehingga totalnya menjadi 408.038 penderita. Dari jumlah itu, 9.818 di antaranya kasus aktif.(*)


Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Post a Comment

0 Comments