Di Balik Babi Ngepet. Opini Malika Dwi Ana


Ilustrasi babi ngepet

Di Balik Babi Ngepet. Ditulis oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.


Kabaracehtimur.online -- 

Pasti kalian berpikir bahwa di balik babi ngepet ada orang yang tidak tidur jagain lilin semalaman…hahahha. Saya tidak akan memuaskan rasa ingin tahu anda dengan kisah horor babi ngepet. Tapi jika mikirnya gitu ya tidak apa-apa juga. Karena babi ngepet di film-film horor nasional memang pakem ceritanya begitu. Ntar kisahnya yang jagain lilin ketiduran, lalu babinya ketangkep dan dilihat kok beda sama babi yang biasa; babinya bisa nangis dan juga pemalu.

Tapi bukan itu yang pengen saya bahas. Ada isu babi ngepet di Depok Sawangan, entah datang dari mana, wong Depok Sawangan sudah jadi hutan beton. Tuduhan atau isu tentang babi ngepet, tuyul atau pesugihan itu pada hakikatnya adalah fenomena kecemburuan sosial. Jadi semangat membahas babi ngepet ini jangan cuma berhenti pada ngetawain mereka yang percaya itu. Akan lebih manfaat pada problema sosialnya. Wong yang percaya Jkw saja banyak kok, apalagi kok cuman babi ngepet.

Ada beda pokok antara pesugihan atau penglarisan dan babi ngepet atau tuyul walaupun keduanya adalah sama-sama kecurigaan pada orang kaya di lingkup komunitasnya. Pesugihan atau penglarisan adalah tuduhan pada orang yang usahanya ada, warung misalnya. Sedang babi ngepet dan tuyul biasanya ditujukan pada orang kaya yang tidak jelas asal-usul kekayaannya.

Orang yang dagang dan jualannya laris biasanya diisukan sebagai punya pesugihan atau pakai penglarisan. Ada hal yang tidak bisa mereka fahami sebagai faktor “laris” itu sendiri, misalnya karena kualitasnya sama dengan yang lain, kualitas pelayanannya lebih prima, atau karena lebih enak tempatnya maupun makanannya. Alih-alih berusaha memahami para orang yang iri dan dengki mengatribusikan pada pesugihan.

Babi ngepet dan tuyul adalah persoalan yg berbeda. Ini soal orang yang jauh lebih kaya dari pada profilnya. Pergerakan ekonomi di ruang-ruang gelap. Tidak jelas bisnisnya apa, tapi bisa kaya luar biasa. Ketidakmampuan memahami model bisnis begini ini yang mendasari isu-isu tuyul atau babi ngepet.

Yang menarik dari kasus Depok Sawangan ini, biasanya babi ngepet, tuyul atau pesugihan ini memiliki tertuduh yang jelas. Ada orang yang dicemburui, sangat kaya lalu muncul isu. Kini, sepertinya terbalik. Ada isu kemunculan, baru lalu dicarikan orang yang bisa dicurigai.

Ini lebih seperti kecemburuan atau social distrust yang meluas. Diakui atau tidak dalam masa pandemi dan resesi ini sebagian besar orang terpuruk ekonominya, namun tetap saja ada sebagian lain yang makin sejahtera. Ada api kecemburuan dalam sekam yang besar di sini. Yang jika gagal dikelola bisa runyam.

Mosok ya karena tidak bisa melihat, maka babi ngepet dianggep “tidak ada”, dan logika di sebagian banyak orang memang tidak memberikan celah untuk memercayai keberadaan babi ngepet, tuyul dan sebangsanya.

Misal ada warung bakso laris, trus ada anak kecil teriak-teriak karena melihat ada yang mengencingi kuah bakso, dalam pikiran rasional, si anak dianggap berhalusinasi atau berkhayal. Atau pernah dengar, ada warung bebek terkenal laris manis hingga pembelinya bejibun, rela antri berlama-lama demi sepiring nasi bebek yang rasanya gak jauh beda dengan nasi bebek kaki lima Dharmawangsa depan kampus Unair atau nasi bebek jalan Tembakan Surabaya.

Padahal pelayanan ala kadarnya, bahkan cenderung sembarangan, tak sebaik warung nasi kaki lima. Pelayannya bawa es teh tumpah-tumpah dengan meja dan lantai becek tidak dilap, tapi pengunjung rela di situ berlama-lama duduk. Lalu ada yang melihat banyak anak kecil naik meja, memberakin, menjilatin, mengencingi serta meludahi hidangan nasi bebek di meja, adalah hal yang susah dilogika. Memang memahamkan sesuatu yang tak kasat mata alias ghaib itu tidaklah mudah, kecuali orang melihat atau menyaksikan sendiri.

Ini kayak mengaku rindu meski tidak pernah bertemu. Dalam bahasa agamanya, ghaib atau tak kasat mata adalah kata mashdar yang digunakan untuk menyebut setiap sesuatu yang tidak dapat diindra, atau tidak dapat ditangkap oleh panca indra alias tak kasat mata, baik diketahui maupun tidak. Iman kepada yang ghaib berarti percaya kepada segala sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh panca indra dan tidak bisa dicapai oleh akal biasa, akan tetapi ia diketahui oleh wahyu yang diterima oleh para nabi dan rasul. Salah satu sifat dari orang-orang mukmin adalah mengimani yang ghaib. (Lebih lengkap di Surah Al-Baqarah: 1-3)

Jadi, menggoblog-goblogkan atau mentertawakan orang yang percaya pada tuyul atau babi ngepet ini bisa menjadi counter productive. Karena babi ngepet atau tuyul ini hanya lapisan luar. Sedang hakikat kecemburuan sosialnya sama sekali tidak tersentuh. Dan ini seperti menyiram minyak pada api.(HarianNKRI.id)

Post a Comment

0 Comments