Apa Itu Thorium? Nuklir Hijau di Bangka Belitung yang Diincar Perusahaan AS untuk Pembangkit Listrik

Apa Itu Thorium? Nuklir Hijau di Bangka Belitung yang Diincar Perusahaan AS untuk Pembangkit Listrik
FOTO ist: Ilustrasi Thorium 

KABARACEHTIMUR.ONLINE - Thorium, mineral yang banyak terdapat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ini diincar perusahaan dari Amerika Serikat, ThorCon International Pte. Ltd untuk dikembangkan menjadi bahan baku pembangkit listrik.

Perusahan tersebut bakal melakukan feasibility study dan study tapak di Provinsi Bangka Belitung.

Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan ThorCon International, Bob Soelaiman Effendi seusai bertemu Gubernur Provinsi Bangka Belitung Erzaldi Rosman, Selasa (20/4/2021).

Pada pertemuan itu, Bob tak sendiri. Bersamanya turut serta bersama dengan Government Relation Manager ThorCon International Dhita Ashari dan CEO ThorCon Internasional David Devanney

Pengertian Thorium

Lantas sebenaranya apa itu Thorium?

Thorium kerap pula disebut sebagai nuklir hijau.

Disebut begitu karena thorium dianggap lebih ramah lingkungan ketimbang uranium, namun energi yang dihasilkan jauh lebih dahsyat.

Thorium merupakan salah satu jenis nuklir di samping uranium.

Limbah radioaktif yang dihasilkan torium jauh lebih rendah daripada uranium.

Pakar Teknologi Nuklir dan Pengolahan Bahan Mineral alumni S2 Universitas Gadjah Mada, Akbar Yulandra (26) menjelaskan, Thorium adalah unsur radioaktif dengan nomor atom 90 dengan isotop paling stabil yaitu 232 (Th-232). 

Unsur radioaktif  ini terdapat pada mineral Xenotime dan Monazite. 

Mineral Monazite dan Xenotime itu sendiri merupakan mineral ikutan dari proses penambangan timah atau Zirkon, yang biasa disebut masyarakat sebagai tailing timah.

Thorium dapat digunakan sebagai bahan bakar PLTN seperti Uranium.

Kelimpahan Thorium di dunia mencapai 3-4 kali kelimpahan Uraniuam di dunia.

Mineral Monazite dan Xenotime dapat dijumpai di daerah Kepulauan Bangka Belitung, Singkep Kepulauan Riau dan di Rirang Kalimantan Barat. 

Potensi Thorium di Bangka Belitung

Di Bangka Belitung, menurut kementrian ESDM memiliki potensi sumber daya Thorium sebesar 120.000 ton, Uranium 24.000 ton, dan Unsur Tanah Jarang (LTJ) 7.000.000 ton.


Pemanfaatan throrium untuk pembangkit listrik

Untuk memanfaatkan Thorium sebagai bahan bakar PLTN maka diperlukan proses pemisahan dan pemurnian. 

Pertama diawali dengan pemisahan secara fisik untuk memisahkan mineral timah dan ikutannya, seperti Monazite dan Xenotime. 

Kedua, setelah melalui proses fisik mineral Monazite harus dihaluskan terlebih dahulu sampai ukuran mesh tertentu. 

Ketiga, mineral monazite akan melewati proses hidrometalurgi, yaitu proses pengambilan logam dengan reaksi-reaksi kimia dalam larutan berupa air ataupun solvent (pelarut)). untuk memisahkan Thorium, Uranium dan Logam Tanah Jarang lainnya.

Proses hydrometalurgi pada umumnya adalah proses leaching (ekstraksi padat-cair), pengendapan bertingkat, dan ekstraksi cair-cair sehingga didapatkan kemurnian Thorium yang tinggi dan dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk PLT Thorium.


Cara kerja pembangkit listrik Thorium

Cara kerja PLT Thorium adalah dengan memanfaatkan sifat dari Thorium isotop 232 (Th-232) yang bersifat fertil  (membiakan diri) atau tidak dapat membelah diri (fisil) seperti bahan bakar nuklir Plutonium isotop 239 (Pu-239), Uranium isotop 233 ( U-233) dan Uranium isotop 235 (U-235) yang digunakan sebagai bahan bakar nuklir di kebanyakan PLTN di dunia. 

Oleh karena itu Th-232 tidak dapat berdiri sendiri sebagai bahan bakar, karena harus dikombinasikan dengan bahan bakar nuklir yang bersifat fisil. 

Proses menghasilkan energi listrik pada PLT Thorium dimulai mereaksikan Th-232 dan neutron (0n1), sehingga Th-232 berubah menjadi Uranium isotop 233 (U-233) bersifat fisil (atau membelah diri), U-233 kemudian bereaksi kembali dengan neutron (0n1) sehingga terjadi reaksi fisi nuklir (reaksi pembelahan inti). 

Dari reaksi fisi nuklir inilah nantinya akan menghasilkan energi panas, kemudian menggerakkan turbin untuk menghasilkan energi listrik.


Dampak keamanan dan Keselamatan

PLT Thorium yang bakal dibangun di Bangka Belitung adalah tipe MSR (Molten Salt Reactor) atau reaktor yang menggunakan bahan bakar Thorium dalam bentuk garam cair.  

MSR (Molten Salt Reactor) ini merupakan reaktor daya generasi IV yang sudah menuju sistem inherent safety atau sistem keselamatan yang melekat. 

Pada prinsip utama keselamatan nuklir adalah menjamin bahwa radiasi yang lepas dari reaktor nuklir tidak melampaui batas yang diterima oleh masyarakat dan lingkungan. 

Pada MSR (Molten Salt Reactor) didesain dengan pertahanan berlapis sehingga dosis radiasi yang keluar dapat terkendali. 

Kondisi operasi MSR (Molten Salt Reactor) pada tekanan yang rendah sehingga bebas dari resiko produk gas yang dapat menyebabkan explosive. 

Pada tipe reaktor ini juga memiliki kemampuan pemadaman reaktor yang berganda dan dilakukan dengan tanpa intervensi operator.


(Bangkapos.com/Riki Pratama/ Edwardi)


Post a Comment

0 Comments