Muliadi Bayeun : Begini Adat Lamaran di Aceh Timur


KABARACEHTIMUR.online - Hari itu matahari mulai mengelurkan cahayanya,di iringi kicauan burung yang bertasbih kepada Sang Pencipta,hari itu hari kebahagian bagi Muliadi Bayeun Seniman Muda yang sering tampil berbalas pantun (Seumapa) di acara resepsi perkawinan khususnya di Aceh Timur.

Kebahagian itu di rasakan karena hari itu sosok Muliadi yang pernah di undang Seumapa di resepsi perkawinan artis jakarta Roger Danuarta dan Cut Meyriska meminang sang pujaan hatinya.  Maulina gadis Pesantren yang berasal dari Matang Rayeuk Kecamatan Simpang Ulim.

Mate aneuk meupat jeurat
Gadôh adat pat tamita
Salah bak hukom raya akibat 
Salah bak adat malee bak donya.
Maka
Menyoe patah aleue menasah,
Taikat beupah ngon awe lilen,
Adat nyang kana begot tapapah
Karna that sosah tamita laen.

Begitulah sebuah pepatah mengatakan

"Alhamdulillah hari ini 25 Maret 2021 acara Lamaran berjalan seperti yang direncanakan dengan menampilkan adat budaya kita sendiri. Hanya untuk mencontohkan kepada generasi bahwasanya,  semakin giat kita melestarikan  adat budaya kita.

Kata dia, maka semakin tinggilah martabat kita di mata bangsa lain juga sebaliknya, bila kita tidak menjaganya maka akan hilang seiring berjalannya waktu, bahkan ! tak ada jalan untuk kita kembalikan lagi," Ujar Muliadi


Selain itu, seniman nuda ini juga menjelaskan adat meminang di Kabupaten Aceh Timur

"Acara Ranup Batee (melamar) ialah salah satu proses adat perkawinan yang merupakan langkah sebelum menikah," katanya

Pada acara lamaran tersebut, turut hadir Keuchik, Imam, Tuha Peut Kadus, Pemuka Adat,  bahkan turut hadir mendampingi Selangke Syeh Medya Hus dan Keuchik Ramli dari Banda Aceh yaitu Anggota Majelis Adat Aceh Provinsi

Lanjutnya lagi acara yang berlangsung pun masih diwarnai dengan adat tradisi Aceh , baik dari tatacara pelaksanaan Ba Ranup Batee (lamaran) maupun peralatan yang digunakan diantaranya :  Ranup Batee (tempat sirih). Karah (tempat mahar) yang diperkirakan sudah berusia 200 tahun.

Barang antik ini, dipinjamkan oleh kolektor barang antik Aceh yang tak asing lagi namanya bagi kita yaitu Tengku Nur Iman yang sering kita jumpai bila kita berkunjung ke rumah Aceh Taman Hutan Kota Langsa, juga segala hantaran baik itu rumah Aceh (peurakan) yang melambangkan Rumah kebanggaan masyarakat Aceh.

Juga hantaran lain yang isinya berupa kue khas Aceh dan pakaian calon dara baro, tempatnya pun bertutupkan kain ukiran kasap Aceh yang berwarna kuning bercampur merah dengan nilai filosofi penting bagi masyarakat Aceh," Jelas Muliadi.

"Lamaran ini di laksanakan pada pukul 08.30 wib dan sampai ke rumah wanita pada pukul 11.00 WIB, Karena adat lamaran memang mesti ketika diek uroe , karana filosofinya sebagaimana diek uroe bemenan diek makmu dan bahagia dalam rumah tangga," sebut  Muliadi 

Muliadi juga berterimakasih atas dukungannya Majelis Adat Aceh ( MAA ) Provinsi, Group Seueng Samlakoe,
Bang Gaes Maimunzir ( Videografer),Tengku Nur iman( Kolektor barang Antik),Kak Fina ( Pengrajin Kain Teunun Desa peulalu,Simpang ulim, Aceh Timur), Pelaminan Salma Modiste, Suci Pelaminan, dan Zuhra Pelaminan, serta juga kepada segala pihak yang sudah mendukung (*)

Post a Comment

0 Comments