Stop Sholat Berjarak


oleh : Prof Daniel Mohammad Rosyid

Kabaraceh timur.online --
Sudah hampir setahun ummat Islam Indonesia paling tidak telah melakukan sebuah inovasi sholat, yaitu sholat berjarak (shaf tidak rapat) sekaligus bermasker selama pandemk Covid-19 ini.  Dengan alasan keadaan darurat, bahkan sebagian besar ormas Islam merekomendasikan sholat berjarak ini walaupun ini tidak sesuai dengan sunnah yang menganjurkan sholat yang rapat kaki bersentuh kaki bahu bersentuh bahu.

Pengalaman sholat berjarak ini juga mengakibatkan trauma bagi kawan saya Mukhlis Siregar yang datang jauh dari Langkat ke Surabaya baru-baru ini.

Data berikut ini jelas menunjukkan bahwa praktek sholat berjarak ini sebuah praktek* *yang keliru karena tidak terbukti efektif mencegah kasus penularan Covid-19.

Pertama, hingga hari ini di Sumatera Utara  di mana praktek sholat berjarak tidak dilakukan oleh kebanyakan masyarakat, dengan penduduk sekitar 14,6 juta, tercatat kasus covid-19 sebesar 21 ribu di mana 745 meninggal. Ini berarti rasio wafat/kasus 3,5% sedangkan rasio wafat/jumlah penduduk 5,1 per seratus ribu penduduk.

Di Sulawesi Selatan di mana praktek sholat berjarak juga tidak populer, dengan jumlah penduduk 9 juta, tercatat kasus sebesar 49 ribu dimana 744 wafat. Ini berarti rasio wafat/kasus 1,5% sedangkan rasio wafat/jumlah penduduk 8,3 per seratus ribu penduduk.

Di Jawa Timur yang getol mempraktekkan sholat berjarak ternyata gagal menunjukkan kinerja penanganan Covid-19 yang lebih baik. Dengan penduduk sebesar 40 juta, dengan kasus positif sebesar 113 ribu, tercatat kasus kematian yg tinggi sebesar 7.900. ini berarti rasio wafat/kasus sebesar 7% dan rasio wafat/jumlah penduduk 20 per seratus ribu penduduk.

Di masjid, muslim umumnya sudah berwudlu, mencuci tangan dengan hand sanitizer, dan bermasker sehingga potensi saling-tular virus covid-19 ini relatif kecil sekali. Di tambah dengan wudlu hidung (istinsyaq), muslim yang hendak sholat di masjid relatif aman dari penularan virus. Juga di masjid,  jamaah lebih banyak berdzikir daripada ngobrol yang banyak menyebabkan droplet.

Ada beberapa faktor lain yang menjelaskan mengapa Jawa Timur lebih rentan menghadapi pandemi ini. Di samping kualitas udara yang lebih buruk,  prosentase prevalensi penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan jantung koroner di Jawa Timur juga lebih tinggi. Penyakit tidak menular ini sering disebut penyakit bawaan pada pasien Covid-19 atau disebut comorbid.

Di samping efektifitas vaksin yang tidak terlalu meyakinkan, penanganan pandemi yang lebih tepat sesungguhnya adalah dengan mengurangi prevalensi penyakit bawaan atau comorbid yang meningkat karena gaya hidup yang makin tidak sehat, dan tidak aktif secara fisik. Promosi gaya hidup sehat dan aktif serta upaya preventif dengan meningkatkan imunitas tubuh jauh lebih efektif dan efisien.

Mempraktekkan sholat berjamaah berjarak sama sekali bukan tindakan yang tepat karena tidak terbukti efektif menekan penularan maupun resiko kematian akibat covid-19.

Rosyid College of Arts, 
Gunung Anyar, Surabaya

PREVALENSI

Prevalensi adalah proporsi dari populasi yang memiliki karakteristik tertentu dalam jangka waktu tertentu. Dalam dunia kedokteran, karakteristik yang dimaksud meliputi penyakit atau faktor risiko.

Post a Comment

0 Comments