Polda Sumsel Gelar Perkara Kasus Pers Plat Merah, Kuasa Hukum Terlapor Minta Hentikan Penyidikan


KABARACEHTIMUR.online I PALEMBANG – Postingan Jenny Shandiyah di media sosial nampaknya berbuntut panjang. Pasalnya saat ini pihak penyidik Polda Sumatera Selatan telah melakukan penyidikan terkait postingan diduga menyinggung profesi wartawan yaitu pelapor, Al Kahfi selaku insan Pers.

Hal ini terbukti saat dilaksanakan gelar perkara yang dipimpin langsung oleh Wadir Krimsus AKBP Fery Harahap di ruang rapat Deviacita Ditreskrimsus Polda Sumsel, Selasa (16/2/2021) lalu. Dalam gelar melibatkan saksi ahli bahasa dan pidana.

Kepada sejumlah wartawan, kuasa hukum terlapor, Ridho Junaidi meminta penyidik untuk menghentikan penyidikan dikarenakan ia menilai bahwa laporan tersebut tidak tepat.

“Klien kami dikenakan Pasal 27 ayat (3) tentang ITE tidaklah tepat, karenanya kami mohon kasus ini dihentikan. Kami minta dan mohon kepada penyidik menghentikan gelar perkara ini,” katanya.

Ridho menambahkan bahwa postingan tersebut jelas tidak pernah membuat pelapor sakit hati.

“Mohon dihentikan demi keadilan dan azaz hukum. Berdasarkan kacamata hukum kami,” harapnya.

Dilokasi yang sama, terlapor Jenny Shandiyah terlihat pasrah dan mengatakan bahwa persoalan ini masih memasuki tahap penyelidikan gelar perkara.

“Kami baik pelapor maupun terlapor sama-sama memberikan kesaksian, untuk selanjutnya seperti apa dan bagaimana hasilnya kami belum tahu,” terangnya.

Sementara pelapor, Al-kahfi kepada sejumlah wartawan usai pertemuan di ruang Deviacita mengungkapkan bahwa kasus bergulir lantaran postingan terlapor di akun facebook pribadinya yang menyinggung profesi pelapor selaku insan Pers.

“Kenapa postingan Pers plat merahnya dirubah, ini kan menimbulkan tanda tanya. Bila dianggap tidak ada unsur melecehkan, tidak perlu untuk dirubah biarkan saja,” cetus Kahfi.

Lalu, Al Kahfi menjelaskan bahwa jelas postingan terlapor sangat menghina profesinya sebagai insan pers.

“Tidak ada hubungannya dengan perusahaan media, tetapi laporan saya, pelapor diduga telah menghina atau menjatuhkan kehormatan profesi saya sebagai insan pers. Laporan saya ini untuk memperjuangkan harga diri dan martabat insan pers khususnya Kota Pagar Alam dan insan Pers seluruh infonesia,” tegas Kahfi.

“Dalam postingan tersebut memang tidak ada menyebut nama saya tetapi diduga telah menghina dan menyerang profesi saya sebagai insan pers. Pada saat itu saya melaporkan postingan tersebut, saya masih wartawan starindonews.com,” bebernya.

Sementara itu, salah satu Ahli pidana, Dr Sri Sulastri, SH.MHum mengatakan bahwa dalam postingan tersebut ada unsur pidananya. Hal itu meyerang kehormatan profesi hingga tidak perlu meyebut nama.

“Yang harus diperhatikan delik ini formil atau delik materil, kalau dia delik materil akibat yang dicari, kalau penghinaan yang dilarang itu delik formil, bukan akibat perbuatan. Yang dilarang menyerang kehormatan, hal yang tidak boleh atau yang dilarang. Pasal ini selain UU ITE ada juga unsur Pasal 310 KUHP,” terangnya saat awak media melakukan wawancara. (AL kahfi)

Post a Comment

0 Comments