Meneliti Penyebab Tanah Bergerak di Aceh hingga Upaya Penyelamatan Warga


Bencana tanah bergerak itu telah membentuk rekahan besar dengan kedalaman lebih dari 5 meter.

Sebanyak 14 unit rumah warga yang berada di area tanah bergerak itu direkomendasikan untuk segera direlokasi ke tempat yang lebih aman.

"Berdasarkan hasil penelitian kami, lokasi tersebut tidak layak lagi untuk permukiman penduduk, karena pergerakan tanah ke depan akan terus terjadi," ujar Kepala Seksi Geologi, Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Aceh Mukhlis saat dihubungi, Kamis (11/2/2021).

Penyebab tanah bergerak

Mukhlis menyebutkan, hasil survei Tim Geologi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Desa Lamkleng merupakan daerah perbukitan bergelombang dengan sudut kelerengan 35 derajat.

Daerah itu memiliki endapan aluvial (Qh), berupa endapan sungai yang berwarna cokelat kehitaman, berukuran butir lempung sampai lanau, tidak terkonsolidasi dengan baik atau bersifat gembur.

"Kondisi lereng curam dengan sisi bawahnya merupakan sungai menjadi faktor terjadinya tanah bergerak. Ditambah lagi curah hujan tinggi yang menjadi faktor mempercepat terjadinya longsor, karena lokasi tanah tersebut dikategorikan aktif," kata Mukhlis.

Untuk mengurangi potensi agar pergerakan tanah tidak terus membesar dan memabahayakan keselamatan warga, Mukhlis juga merekomendasikan rekahan tanah yang telah membentuk lereng baru di pemukiman warga Lamkleng di pedalamam Aceh Besar itu agar dibangun terasering sepanjang retakan, untuk memperlandai lereng.

"Hasil survei kami sebelum kejadian yang sekarang, lokasi tersebut juga pernah terjadi tanah bergerak sebelumnya, tapi pergerakan sangat kecil," kata dia.

Bantuan untuk korban

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Besar langsung mendirikan tenda pengungsian untuk warga yang rumahnya berada di lokasi bencana tanah bergerak.

Hal tersebut sebagai upaya penangan darurat dan sementara.

"Kami dari BPBD langsung mendirikan tenda keluarga pertama 8 unit, kemudian karena dibawa angin, sekarang tinggal 3 dan 1 tenda besar. Dari BPBA juga ada mendirikan 1 tenda besar, Dinsos 7 tenda beserta bantuan logistik," ujar Kepala BPBD Aceh Besar Parhan kepada Kompas. com.

Sementara itu, Gubernur Aceh Nova Iriansyah yang berkunjung ke Desa Lamkleng pada Rabu (27/1/2021), berjanji akan segera membangun 18 unit rumah untuk keluarga terdampak bencana tanah bergerak itu.

Menurut Nova, jika pembangunan rumah bagi para korban harus menunggu dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA), maka akan menyita waktu yang lama untuk realisasi pembangunan.

Untuk itu, ia meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk segera menyiapkan lahan.

"Kalau ada lahan relokasi bisa langsung dibangun rumahnya. Skema bantuan rumah akan diupayakan melalui dana corporate social responsibility (CSR), karena kalau harus menunggu dana APBA terlalu lama, nanti teken 2022," kata Nova.

Sementara itu, Kepala Desa Lamkleng Fajri menyebutkan, selain rumah warga, kerusakan lain juga terjadi pada ruas jalan desa sepanjang 300 meter.

Kemudian, bangunan tempat penampungan air bersih, Gudang PKK, 3 hektar lahan perkebunan warga, dan puluhan makam juga rusak akibat tanah bergerak.

"Bangunan rumah yang sudah retak 1 unit. Tapi 14 rumah yang berada di lokasi tanah bergerak itu tidak layak tinggal, harus direlokasi semua," kata dia.

Fajri menyebutkan, saat ini hanya tinggal 2 kepala keluarga yang masih tetap mengungsi di tenda, karena kondisi bangunan rumah mulai retak.

Warga lainnya hanya mengungsi ke tenda saat terjadi hujan.

Fitrina (40) salah satu warga yang terdampak langsung dari fenomena tanah bergerak itu, hingga saat ini masih bertahan di tenda pengungsian bersama 8 orang anggota keluarganya.

Fitrina dan keluarganya tidak berani lagi tinggal di rumah, lantaran ada bagian rumahnya yang sudah mulai retak.

"Saya sudah satu bulan tinggal di tenda, dengan kondisi banyak nyamuk. Kalau hujan, tenda juga masuk air. Harapannya kalau bisa kami saat bulan suci Ramadhan nanti sudah dibantu rumah yang dijanjikan Gubernur Aceh," ujar Fitrina.


by Kompas.com

Post a Comment

0 Comments