Batu Nisan dari Era Kerajaan Aceh Ditemukan di Proyek Tol


Sejumlah nisan yang diduga merupakan peninggalan dari makam ulama era Kesultanan Aceh Darussalam, ditemukan di kawasan pembangunan Tol Sigli-Banda Aceh.
Batu nisan makam ulama era Kesultanan Aceh Darussalam yang ditemukan di depan pintu tol Sibanceh. (Foto: CNN Indonesia/Dani)

Kabaracehtimur.online l Banda Aceh --

Sejumlah nisan yang terindikasi berasal dari makam ulama era Kesultanan Aceh ditemukan di kawasan pembangunan Tol Sigli-Banda Aceh (Sibanceh), tepatnya ada di Gerbang Tol Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.

Temuan nisan itu terletak di lokasi proyek pelebaran jalan masuk pintu tol. Beberapa nisan berbentuk bulat, sementara lainnya silindris. Pada satu titik, ditemukan puluhan nisan.

Sejarawan Aceh dari Universitas Syiah Kuala, Husaini Ibrahim menduga berdasarkan tipe, bentuk dan corak batu nisan menunjukkan peninggalan dari makam ulama pada era Kesultanan Aceh Darussalam yakni abad ke-18 akhir.

"Itu tipe batu nisan Aceh. Lebih kepada batu nisan silindris, itu masuk tipe yang ketiga berkisar ke abad 18 akhir. Kalau kita lihat model-model itu, makam ulama," kata Husaini saat dikonfirmasi, Rabu (10/2/).

Husaini menjelaskan dari nisan itu tidak ada informasi ataupun tulisan.Menurutnya, pada era Kesultanan Aceh Darussalam, nisan ulama masih polos dan tanpa tulisan. Berbeda dengan nisan kerajaan yang memiliki informasi berbentuk tulisan-tulisan.

"Saya melihat itu tidak ada informasi ataupun tulisan. Karena batu nisan ulama saat itu polos berbentuk bulat tanpa ada tulisan. Itu masuk bagian akhir Kerajaan Aceh Darussalam," terang dia lagi.

"Dari penemuan itu, kewajiban mereka harus melakukan pelestarian, tapi kita masih menunggu yang penting sudah kita konfirmasi terkait penemuan itu," ucap dia.Sebelum penemuan tersebut, Husaini mengaku sebelumnya pernah menyampaikan ke Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) untuk menghindari pembangunan di kawasan makam.

Husaini berharap nisan tersebut dilestarikan dan dilindungi lantarn menjadi bagian dari warisan Kerajaan Aceh Darussalam. "Kita berharap bisa diselamatkan, namun pembangunan terus lanjut tapi tidak merusak warisan sejarah," pungkas dia.

Sumber : CNN Indonesia

(dnr/nma)



Post a Comment

0 Comments