Air dan Lumpur Mulai Keluar dari Bagian Bawah Tanah Bergerak

Pohon bertumbangan di dekat lokasi tanah bergerak, Gampong Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar
Pohon bertumbangan di dekat lokasi tanah bergerak, Gampong Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar

KABARACEHTIMUR.ONLINE I BANDA ACEH - Fenomena tanah bergerak di Gampong Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, terus berlangsung. Kedalaman tanah yang longsor (amblas) saat ini sudah hampir 5 meter. Selain itu, muncul pula fenomena baru di lokasi, yakni keluar air dan lumpur dari bagian paling bawah blok longsoran itu, hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi sejak 10 hingga 23 Januari lalu.

Munculnya air dan lumpur itu terdeteksi Minggu (24/1/2021) siang, saat Dr Nazli Ismail bersama puluhan mahasiswa Program Studi (Prodi) Magister Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala (MIK USK) berkunjung ke Gampong Lamkleng.

"Saya baru pulang dari lokasi membawa mahasiswa MIK untuk belajar dan kasih sumbangan. Sempat turun juga ke bawah. Selain longsorannya semakin dalam, juga terbentuk rekahan baru di bawah. Keluar air dan lumpur di bagian paling bawah," kata Nazli menjawab Serambi , Senin (25/1/2021).

Menurut Ketua Prodi MIK USK itu, air campur lumpur yang keluar tersebut menunjukkan bahwa akumulasi air yang sudah jenuh di dalam tanah pada blok longsoran. Selain itu, kata Nazli, semua pohon dan rumpun bambu yang sebelumnya hanya miring saja kini sudah bertumbangan.

"Beberapa pohon yang berada di kaki lereng juga tumbang, karena tanah berlumpur tidak mampu lagi menyangga akar dan batangnya," kata Dosen Prodi Fisika pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USK ini.

Begitupun, lanjut Nazli, lereng tebing yang mengarah ke sungai relatif masih utuh, mungkin karena tersangga oleh vegetasi. "Tapi bagian atasnya  amblas, membentuk alur dan terisi air hujan," ujar Nazli Ismail.

Berdasarkan pemantauan pada Minggu kemarin, karena cuaca cerah dan tidak hujan di Kecamatan Kuta Cot Glie, kondisi di area longsoran relatif stabil. Namun, bagian pojok rumah yang paling dekat dengan blok longsoran itu sudah agak menggantung. "Beberapa kuburan di lokasi itu juga terpotong oleh garis longsor," ungkap Nazli.

Meski kondisi di lokasi secara kasatmata makin mengkhawatirkan, namun pengungsi di desa itu belum bertambah. "Jumlah warga yang mengungsi ke tenda besar masih 18 KK. Belum bertambah," sebut Nazli.

Mantan wartawan Harian Serambi Indonesia ini pun bercerita bahwa dia dan para mahasiswa MIK yang dibawanya ke lokasi dijamu makan bubur di bawah tenda oleh ibu-ibu yang mengungsi. "Suasananya benar-benar bersahabat. Kami juga menyerahkan bantuan kepada para pengungsi," kata Nazli.

Sementara itu, Keuchik Lamkleng, Muhammad Fajri, mengakui bahwa rekahan tanah bergerak di Gampong  Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, semakin meluas. "Saat ini tanah amblas 40 sentimeter dan kini tanah bergerak dengan kedalaman mencapai 4,40 meter," ujarnya.

Menurut dia, pergeseran tanah aktif terus terjadi setiap hari. Warga semakin cemas karena belum berakhirnya fenomena geologis tanah bergerak yang telah membentuk rekahan dan retakan tersebut.

Muhammad Fajri mengatakan, penyebab terjadinya pergeseran tanah belum disimpulkan oleh tim baik dari BMKG Mata Ie maupun Tim Prodi Teknik Geologi USK Banda Aceh.

Saat ini, kata Fajri, Tim Teknik Geologi USK Banda Aceh masih terus melakukan penelitian untuk mencari tahu penyebab utama mengapa tanah di Gampong Lamkleng itu terus longsor setiap hari.

Hingga kemarin, katanya, warga di kawasan tanah bergerak itu masih mengungsi di tenda pengungsian sebanyak 18 KK  dari 14 rumah karena ada yang satu rumah dihuni oleh dua KK.(dik)

Editor: bakri

Post a Comment

0 Comments