Socrates Ingin Merubah Keadaan Berujung Hukuman Minum Racun


KABAR ACEH TIMUR I IDI RAYEUK -- Socrates (470-399 SM) adalah seorang filsuf besar, pernah dihadapkan pada forum besar peradilan yang dikenal dengan “Court of The Heliast”, yang diadili oleh 501 warga Athena. Jumlah ganjil (501) untuk menjamin suatu putusan bebas atau bersalah dalam peradilan yang adil. Socrates dituduh melakukan kejahatan karena sengaja merusak pikiran generasi muda Yunani.

Socrates adalah seorang bidan yang berusaha melahirkan pemikir-pemikir baru yang cemerlang dan jernih. Disebut “bidan” karena ia berusaha membantu kelahiran kebenaran dalam kandungannya kala itu kepada generasi Athena.

Filsuf bijaksana dari Yunani ini merupakan manusia pencari kebenaran sejati yang tak gentar dengan terpaan badai dari kaum Sofis. Terlebih lagi, Socrates memiliki tekad untuk menaklukkan keangkuhan kaum Sofis yang menganggap diri mereka paling benar. Bahkan, hampir bisa dikatakan bahwa Socrates adalah manusia yang membawa pesan-pesan nubuwah dan profetis pada zamannya.

Selain keyakinannya yang begitu besar terhadap kebenaran, ia juga rela mati demi kesetiaan dan kehormatan pada Undang-undang negara. Baginya, hidup sebagai warga negara yang baik adalah salah satu kebajikan manusia. Keyakinannya ini ditunjukkan dengan keputusan untuk minum racun dalam sebuah pengadilan di Athena. Tragedi memilukan ini terjadi pada saat Socrates berumur 37 tahun, atau tepatnya tahun 399 SM.
Dia diadili dengan tuduhan telah meracuni pikiran-pikiran kaum muda oleh para penuntutnya, yaitu Meletos, Anytos, dan Lycon. Ketiganya mewakili tiga kelompok sosial yang paling berpengaruh di Athena pada saat itu. Meletos mewakili para penyair, Anythos mewakili para seniman dan negarawan dan Lycon mewakili musuh besar Socrates: kaum sofis.

Pada hari pengadilan yang dihadiri 2/3 warga Athena, Socrates menyampaikan tiga buah pidato. Pada pagi hari, Socrates membacakan pledoi. Siang harinya, usai pemungutan suara yang memutuskan hukuman mati, Socrates maju kembali menyampaikan pidato dan diijinkan meminta pengampunan atau alternatif hukuman. Pada sore harinya, setelah pemungutan suara yang kedua menolak alternatif hukuman yang diajukan, Socrates kembali maju menyampaikan pidato perpisahan.

Filsof sederhana ini menerima piala berisi racun yang harus diminumnya. Piala itu diberikan oleh seorang petugas penjara, ia menangis saat memberikannya pada Socrates. Plato dan teman-temannya meratapi peristiwa sedih itu. Dalam kata terakhirnya, ia memohon pada sahabatnya agar melunasi hutang-hutangnya dan tidak meratapi kepergiannya, “Tibalah kini saat kita berpisah, aku menjelang mati dan kalian menempuh hidup, mana yang lebih baik hanya Tuhan mengetahui”.

Tiga buah pidato Socrates ditulis ulang oleh Plato dan diabadikan dalam sebuah buku yang berjudul Apologia. Buku ini merupakan saduran dari 3 naskah pidato Socrates sewaktu diadili di Athena. Satu naskah pembelaan atas tuntutan, satu naskah duplik menanggapi tanggapan penuntut, dan terakhir naskah pidato perpisahan Socrates sebelum dieksekusi mati.

Socrates menolak tawaran alternatif hukuman berimigrasi ke luar kota. Socrates menolak tawaran bantuan 30 Mina yang ditawarkan para muridnya, antara lain Plato, Crito, Critobolus dan Apollodoros. Apologia sebagai epilog kehidupan Socrates adalah versi lain dari semangat dramaturgi kebudayaan Athena dalam kehidupan nyata dan bukan semata di panggung Parthenon yang agung.

Dari kisah Socrates diatas, Athena yang dikenal sebagai negeri paling demokratis di zamannya ternyata menorehkan noda paling hitam dalam sejarahnya. Hukum dijadikan senjata paling ampuh dalam membunuh, mengangkangi keadilan dan hukum, dan membuat keadilan dan hukum semakin jauh dari dirinya. Tapi itu tidak abadi dalam siklus perjalanan sejarah...!!!. (*)

Post a Comment

0 Comments