Siapkan Tisu Sebelum Membaca Kabar Ini



KABAR ACEH TIMUR I BANDA ACEH – Nuraini atau yang akrab disapa Erni, kisahnya baru-baru ini viral setelah berjumpa dengan sahabat baiknya, Shella Sofya.

Erni dan Shella telah bersahabat sejak mereka menyambung pendidikan Diploma-1 di lembaga pendidikan LPMI Banda Aceh tahun 1998.

Saat ditemui Serambinews.com di kediaman Erni sementara yang disewakan oleh Shella, Jumat (18/12/2020), ia menceritakan lika-liku kehidupannya hingga harus tinggal di kios.

Erni terlahir dari keluarga yang sangat sederhana.

Hidup dan besar dari keluarga petani, orang tua Erni mampu menyekolahkan dirinya hingga ke jenjang Diploma-1 DI LPMI Banda Aceh tahun 1998.

Semasa kuliah di LPMI, Erni bertemu dengan Shella dan tiga orang teman lainnya.

Mereka tergabung dalam satu ‘genk’ dan menjadi sahabat yang cukup dekat selama berkuliah.

Hari-hari mereka lewati bersama, canda tawa, suka dan duka mereka rasakan.

Tak terasa, setahun berlalu begitu saja. Mereka akhirnya lulus dan berpisah.

Pada waktu itu, handphone belum ada seperti zaman sekarang. Sehingga sahabat-sahabat Erni tak lagi terdengar kabar.

Erni kembali bersama orang tuanya dan membantu pekerjaan ibu dan ayah, sebagai bakti anak pada orang tua.

Berselang beberapa tahun kemudian, Erni menikah dengan seorang pria pujaan hatinya.

Suami Erni adalah kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab dan menafkahi keluarga.

Suaminya itu membuka usaha warung kelontong, sebagai mata pencaharian.

Mereka juga memiliki rumah di kawasan Alue Naga, Banda Aceh.

Hidupnya serba berkecukupan dengan suaminya itu.

Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai tiga orang anak, yakni Faris Al Furkan (16), Friska Ayu Amanda (13) dan Febi Safriani (10).

Tahun 2004, gelombang besar tsunami menghantam Ibu kota Banda Aceh, membuat Erni dan suami berlari menyelamakan diri.

Kejadian mahadahsayat itu membuat suami Erni terbawa air tsunami.

“Saya baru ketemu suami delapan hari (setelah tsunami),” kata Erni.

Pasca kejadian itu, kondisi kejiwaan suaminya sempat mengalami gangguan.

Tahun 2007, suami Erni jatuh sakit dan menghembuskan napas terakhirnya.

Dua tahun berselang, tepatnya 2009, Erni menikah dengan suami kedua asal Sumatera Utara.

Lika-liku rumah tangga dirasakan oleh Erni dengan suami keduanya.

Dikatakan Erni, suami keduanya itu kerap melakukan kekerasan dalam rumah tangga.

Bahkan, ketika keinginan suaminya tidak dituruti oleh Erni, dia akan melempar barang-barang di rumah.

Tahun 2015, suami kedua Erni meminta dirinya menadatangi sebuah surat.

Ia tak mengetahui bahwa surat yang ditandatangai olehnya adalah surat persetujuan peminjaman Bank dengan jaminan surat tanah.

“Setelah dapat uang dari Bank itu, dia kabur,” ujar Erni.

Karena tak sanggup menutup angsuran pinjaman Bank, akhirnya rumah itu disita dan dijual oleh bank.

Kemudian, suaminya pulang kembali ke Erni setelah uang yang dipinjam dari bank itu habis untuk membeli narkoba.

Pengakuan Erni, awalnya dirinya tak mengetahui bahwa suaminya adalah seorang pengguna narkoba

Erni yang memikirkan nasib anak-anak dan juga butuh kasih sayang dari seorang ayah, ia akhirnya menerima kembali suaminya itu.

Sahabat dekat Erni, Shella mengatakan bahwa Erni ini adalah sosok wanita yang penyabar dan tegar.

Alasan Erni menerima kembali suaminya, karena ia butuh sosok laki-laki dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Karena tak memilik rumah lagi, Erni dan suami memutuskan untuk menyewa rumah.

Namun uang tak cukup untuk membayar rumah sewa hingga dirinya harus berpindah sana-sini mencari tempat tinggal.

Hingga akhirnya, ia menampati kios yang berada di bantaran sungai Lamnyong, Banda Aceh itu.

Suami keduanya itu sudah tak ikut lagi bersama dirinya. Pergi entah kemana, Erni juga tak tahu.

“Memang udah seperti itu penyakitnya (pergi kabur). Kalau udah tau dibantu (dapat bantuan), udah datang dia,” ujar Erni.

“Saya terima lagi, karena sudah ada anak dari dia” sambungnya.

Awal tahun 2019, suami kedua Erni kembali meninggakan Erni dan anak-anak.

Hingga kini Erni tak tahu dimana keberadaan suaminya.

“Ada yang bilang dia sudah ditangkap (kasus narkoba), tapi dia tidak kabarin saya” ungkap Erni.

Pernikahan Erni dan suami keduanya, dianugerahi empat orang anak.

Mereka adalah Fakriyanto (8), Firda Fara Disa (7), Fia Adiyanti (5), dan Fadil (3).

Pada satu malam di bulan Juli 2020, kios tempat Erni dan anak-anaknya tidur didatangi oleh orang tak dikenal.

Orang tersebut meminta untuk mengadopsi Fadil, dengan imbalan satu unit rumah.

“Dia datang minta anak saya yang kecil (Fadil) ditukar dengan rumah. Saya ga mau, biar saya hidup seperti ini daripada anak saya diambil,” ujar Erni.

Menurut pengakuan Erni, orang itu ingin mengadopsi anak lelakinya karena mereka tidak memiliki keturunan.

“Mereka gak punya anak. Minta tukar anak saya dengan rumah, tapi jangan lapor-lapor sama polisi,” ujarnya.

Hingga pada selasa (15/12/2020) Shella yang sedang berhenti di depan kios Erni untuk membeli permen dikejutkan dengan perjumpaan keduanya.

Hati Shella bergetar, sesak dan tersayat ketika melihat kondisi kehidupan Erni dan anak-anaknya menepati kios kecil itu.

Deru air matanya tak bisa ia bendung saat mengetahui sahabat baiknya semasa kuliah itu terluntang-lantung di pinggiran Ibukota Banda Aceh.

Kini Shella yang bekerja sebagai PNS di Pemko Banda Aceh dan anggota Persit Spers Kodam Iskandar Muda, telah meyewakan rumah kepada Erni dan anak-anaknya.

Bahkan, Shella menegaskan bahwa ia akan mengurusi kehidupan Erni berserta ketujuh orang anaknya.

“Saya yang akan mengurusi hidup dia (Erni) dan anak-anaknya, sampai mereka benar-benar hidup ‘normal’ dan stabil,” ujarnya, saat diwawancarai Serambinews.com, Jumat (18/12/2020)

Shella mengatakan, anak-anak Erni yang masih kecil rencananya akan disekolahkan di yayasan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) khusus kaum dhuafa.

“Insya Allah semua anak-anaknya disekolahkan, yang kecil ke PAUD, yang sudah bisa masuk SD saya masukkan ke SD 18 Banda Aceh,” ujar istri Serda M Rizal Nasution itu.

Shella mengungkapkan tujuan pertama untuk membantu shabatanya ini adalah, agar Erni dan anak-anaknya mendapatkan rumah yang layak.

“Tujuan pertama saya adalah, saya ingin dia mendapatkan rumah. Tapi ini bertahap setelah psikis dan hidupnya kembali ‘normal’ kembali,” ujar Shella. (*)

Post a Comment

0 Comments