Kilas Balik Peristiwa Gempa dan Tsunami Aceh 16 Tahun Silam



Liputan6.com, Jakarta Tak terasa peristiwa tsunami Aceh telah berlalu 16 tahun lamanya. Meski begitu peristiwa yang terjadi pada 26 Desember 2004 tentu saja tak terlupakan oleh masyarakat Indonesia.

Saat itu gempa dengan kekuatan 9,1 sampai 9,3 skala Richter mengguncang dasar laut di barat daya Sumatra, sekitar 20 sampai 25 kilometer lepas pantai. Tak lama  setelahnya datang tsunami yang meluluhlantahkan Aceh.

Bangunan-bangunan serta kendaraan tersapu oleh derasnya air. Air air setinggi 100 kaki pun menewaskan lebih dari 100.000 pria, wanita dan anak-anak.

Kini 16 tahun berlalu, namun deretan fakta tentang tsunami tersebut nampaknya masih menarik untuk diketahui. Dirangkum dari Merdeka.com, berikut ulasannya.

Tsunami Aceh terjadi usai adanya gempa berkekuatan 9,1 SR. Gempa tersebut adalah yang terkuat sejak gempa pada 28 Maret 1964 di Prince William Sound di Alaska. Sehingga gempa Aceh menjadi gempa yang terkuat ketiga sejak 1900. Dua gempa bumi yang lebih kuat lainnya yaitu 22 Mei 1960 di Chili (9,5) dan 28 Maret 1964 di Alaska (9,2), yang juga menyebabkan tsunami.

Dalam waktu 15 menit setelah gempa tersebut, gelombang air mulai menghantam pantai Sumatera bagian utara dan pulau Nicobar. Gelombang setinggi 30 meter tercatat saat tsunami melanda Aceh. Sekitar dua jam setelah gempa terjadi, gelombang mencapai Sri Lanka, India dan Thailand.

Satu jam kemudian mereka mencapai Maladewa, dan- lebih dari tujuh jam setelah gempa awal, tsunami diamati di Mauritius dan di sepanjang pantai timur Afrika.

Sedikitnya 168.000 orang tewas ketika dinding air menghantam pulau Nias dan provinsi Aceh, yang terletak di ujung utara Sumatera. Sementara di Sri Lanka 35.000 orang tewas, 18.000 meninggal di India dan 8.000 meninggal di Thailand. Tak hanya itu, ratusan orang juga tewas di Afrika.

Banyaknya jumlah korban kala itu juga diakibatkan karena sistem pendeteksi tsunami belum umum digunakan. Apabila dulu sudah ada alat pendeteksi, jumlah korban jiwa yang bisa selamat diprediksi mencapai 51 ribu orang.

Meski begitu, apabila sudah ada pendeteksi tsunami banyak warga yang tetap akan kesulitan menuju tempat tinggi. Hal ini lantaran terjangan tsunami mencapai Aceh hanya dalam waktu 30 menit saja.

Peristiwa dahsyat ini pun menjadi sorotan dunia. Untuk mengenang gempa dan tsunami Aceh, pemerintah pun mendirikan Museum Tsunami pada 2008 lalu. Museum tersebut didesain oleh Ridwan Kamil yang kala itu masih seorang dosen dari Institut Teknologi Bandung.

Museum Tsunami Aceh mengambil konsep rumah tradisional Aceh. Isi museumnya terdapat foto-foto korban dan kisah dari para survivor bencana gempa dan tsunami Aceh serta berbagai ornamen bernuansa Islami.


Post a Comment

0 Comments