Diduga Oknum Deputi Lecehkan Pegawai Perempuan, Ketua BRA Ambil Sikap



ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Badan Reintegrasi Aceh (BRA) diterpa kabar tak sedap.Seorang berpangkat Deputi di Badan Reintegrasi Aceh (BRA) diduga telah melakukan aksi pelecehan seksual terhadap seorang pegawai di lembaga tersebut.

Informasi itu menyeruak di media sosial sejak kemarin.

Kabar itu terungkap dari sepucuk surat yang dikirimkan oleh korban pelecehan seksual kepada Kepala Sekretariat BRA.

Di media sosial informasi ini menjadi viral.

Hal itu menyebabkan Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) bereaksi.

Kepada wartawan, Fakhrurrazi Yusuf mengatakan, pihaknya ssudah mengambil sikap terhadap pelaku yangdiduga melakukan aksi pelecehan seksual yang terjadi di Kantor BRA pusat di Banda Aceh.

Saat ini, pihaknya sudah membuat keputusan akan mengusulkan pergantian dan pemberhentian dalam jabatan oknum yang melakukan pelecehan seksual.

Ditegaskan, secara aturan ia selaku atasan langsung sudah mengambil sikap atas perbuatan yang dilakukan kepada salah satu pegawai di kantor.

“Kami sudah mengusulkan pergantian dan memberhentikan dalam jabatan oknum tersebut,” kata Fakhrurrazi Yusuf, Sabtu (19/12/2020).

Fakhrurrazi Yusuf menjelaskan, pihaknya juga sudah menyampaikan kepada Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dan Ketua KPA pusat atas perbuatan oknum tersebut.

“Saya sudah membicarakan dengan Bapak Gubernur dan Ketua KPA Pusat, sehingga ada keputusan tersebut,” tambahnya.

Sementara itu, kasus dugaan pelecehan oleh oknum salah satu Deputi terhadap pegawai perempuan menjadi perbincangan publik.

Dari surat yang beredar luas di  media sosial itu, juga dijelaskan kejadian pelecehan yang diduga dilakukan oleh salah satu oknum deputi di badan itu.

Pelecehan terjadi di ruang oknum deputi tersebut.

Dimana korban mulai dipegang tangan hingga dipeluk oleh oknum itu.

Hingga kini belum ada laporan apakah korban akan membawa kasus itu ke ranah hukum.

Badan Reintegrasi Aceh (BRA) adalah sebuah lembaga pemerintah yang dibentuk setelah perdamaian Aceh.

Tuugasnya merehabilitasi korban konflik di Aceh. (*)

Post a Comment

0 Comments