Antara Agama Dan Politik Untuk Melahirkan Kebijakan Pemimpin Yang Baik dan Benar

 


ANJURAN AGAMA BAGI  PEMELUKNYA HARUS AKTIF BERPOLITIK UNTUK MELAHIRKAN KEBIJAKAN SERTA KEPEMIMPINAN YANG YANG BAIK DAN BENAR


HABANANGGROE24.COM - Politik merupakan fitrah manusia dalam segela aspek kehidupannya, karena politik itu sendiri dapat dimaknai dengan kata kunci “meraih”. Meraih ini dapat diartikan kesegala aspek, yaitu bisa meraih kekuasaan, meraih keuntungan bagai pembisnis, meraih benda atau jasa untuk pemenuhan kebutuhan, meraih simpati dan lain sebagainya.  Oleh sebab itu, fenomena yang terjadi sekarang untuk aktif diperpolitikan harus ada skil atau memiliki keilmuan yang lain untuk medukung semisal ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu teknik, dan keilmuan lainnya, dan sangat jelas terlihat bahwa kesuksesan dalam meraih tujuan politik itu harus ada dukungan ilmu yang spesifik disamping ilmu politi itu sendiri.


Karena politik disini diartikan dengan satu kata kunci “meraih”, maka hakikatnya itu suatu anjuaran agama terutama agama islam. Oleh sebab itu, berpolitik sebenarnya bagian dari anjuran agama, maka merupakan suatu kewajiban bagi pemeluk agama untuk aktif dalam berpilitik. Jelas terlihat bahwa konsep agama terutama konsep agama Islam amat sangat perlu dipahami nilai-nilai Islam dalam aktivitas politik, dan bila nilai islam diterapakan dalam berpolitik maka dengan sendirinya akan lahir (output) dari aktivitas politik itu sendiri akan baik adan benar, baik secara duniawi maupun dari sudut pandang agama untuk meraih keridhoan Tuhan sekalian alam.


Mari kita lihat apa sebenarnya alasan yang hakikat bahwa ummat harus berpolitik, yaitu secara kasat mata semua keputusan-keputusan penting dalam bernegara dan bermasyrakat semua diputuskan melalui keputusan politik. Apalagi dialam demokrasi yang memutuskan sesuatu hal, baik itu kebijakan maupun memilih pemimpin semua diputuskan dengan suara terbanyak. Maka dapat dibayangkan apabila yang terlibat dalam membuat keputusan tidak memiliki pengetahuan agama (Islam), maka keputusan berupa kebijkan akan sangat jauh dari nilai-nilai agama dan bahkan akan mendobrak nilai agama itu sendiri. Begitu juga bila kita kaitkan dengan kepemimpinan yang lahir apabila ummat tidak aktif berpolitik, maka akan lahir pemimpin-pemimpin yang kurang mengahargai agama itu sendiri dalam kepemimpinannya.


Apabila ada usaha menjauhkan ummat untuk berpolitik itu sebenarnya sedang dilakukan usaha politik oleh minoritas untuk meraih sesuatu, maka bila ini terjadi ummat mayoritas tidak bisa berperan apa-apa dan bahkan minoritas bisa menekan mayoritas melalui keputusan politik. Risiko paling memungkinkan apabila ummat tidak mau berpolitik, maka bisa jadi nilai-nilai agama akan terlupakan dalam kehidupan masyarakat dan yang paling berbahaya aka nada keberanian bagi yang tidak beriman membuat statemen bahwa  melawan agama itu sendiri. Dengan demikian, dengan alasan yang sangat  sederhana diatas sangat jelas bahwa dalam kehidupan demokrasi sudah menjadi suatu kewajiban bagi ummat untuk aktif berpolitik apabila ingin kehidupan berbangsa dan bernegara tetap menerapkan nilai-nilai agama untuk meraih hasanah didunia dan hasanah diakhirat.


Oleh : Dr. Zainuddin, SE., M. Si.

(Akademisi Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh)

Post a Comment

0 Comments