Otak Pelaku Penyeludupan 45 kg Shabu Ke Aceh Dituntut Pidana Mati


Laporan Seni Hendri | Aceh Timur

KABAR ACEH TIMUR- M Kasem, otak pelaku penyeludupan 45 kg sabu-sabu dari Malaysia ke Aceh Timur dituntut dengan pidana mati oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Timur.


Tuntutan hukuman maksimal tersebut dibacakan dalam sidang penuntutan yang berlangsung secara virtual di Pengadilan Negeri (PN) Idi, Kamis (5/11/2020).


Sedangkan, empat terdakwa lainnya yakni Basri, Aji, Teja, dan Junaidi, keempatnya dituntut dengan pidana penjara seumur hidup.


Para terdakwa tersebut disangkakan melanggar pasal dengan dakwaan primair, yaitu Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.


Kepala Kejari (Kajari) Aceh Timur, Abun Hasbulloh Syambas SH MH, melalui Kasi Pidum, Ivan Najjar Alavi SH MH kepada Serambinews.com, Kamis (5/11/2020), mengatakan, tuntutan terhadap masing-masing terdakwa sudah dikonsultasikan terlebih dahulu ke Kejagung dan Kejati Aceh.


“Kita telah melaksanakan penuntutan terhadap terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Idi secara professional,” ungkap Ivan.

Untuk terdakwa M Kasem, jelas Ivan, dituntut hukuman mati karena memiliki peran penting sebagai orang yang bertugas mengkoordinir terdakwa lainnya dalam penyeludupan 45 kg sabu-sabu dari Malaysia ke Aceh Timur via laut menggunakan boat.


Sebelumnya, papar Ivan, perkara ini dilimpahkan dari Polres Aceh Timur ke Kejari Aceh Timur pada 6 Agustus 2020 lalu.


Sidang selanjutnya, tukas Kasi Pidum, akan dilanjutkan pada 12 November 2020 nanti, dengan agenda pembelaan atau pledoi dari terdakwa maupun dari penasehat hukumnya.


Pada sidang agenda penuntutan secara virtual itu, JPU Kejari Aceh Timur dipimpin oleh Kasi Pidum, Ivan Najjar Alavi SH MH.


Sedangkan persidangan dipimpin oleh Hakim Ketua Irwandi SH, bersama dua hakim anggota Tri Purnama SH dan Ike Ari Kesuma SH.


Seperti diketahui, Polres Aceh Timur pada 17 April 2020 lalu, menangkap 5 tersangka penyelundup narkoba dan mengamankan 45 kg sabu-sabu di daerah tambak kawasan Gampong Nalueng, Kecamatan Julok, Aceh Timur.


Kemudian, 45 kg sabu-sabu sitaan itu dimusnahkan oleh Forkopimda Aceh Timur dengan cara digiling menggunakan mesin molen pada Senin, 18 Mei 2020.


Pasutri divonis mati


Pada kasus lain, JPU Kejari Aceh Timur pada Juni 2020 lalu, juga menuntut hukuman pidana mati kepada pasangan suami istri (pasutri), Faisal M Nur dan istrinya Murziyanti, karena bekerja sama menyeludupkan narkoba ke Aceh Timur via jalur laut.


Selanjutnya, Pengadilan Negeri Idi menjatuhkan hukuman pidana mati kepada Faisal Nur dan istrinya Murziyanti, dalam sidang putusan yang berlangsung di PN Idi pada Rabu, 17 Juni 2020.


Faisal Nur terbukti mengendalikan bisnis narkoba dari dalam pejara, karena ia saat itu sedang menjalani masa pidana di Lapas Kelas IIA, Pekanbaru, Riau setelah divonis 18 tahun penjara oleh PN Dumai, tahun 2016 silam.


Sedangkan istrinya Murziyanti berperan sebagai penghubung antara Faisal dengan jejaring mafia sabu. Selain itu, Murziyanti juga ikut berperan mengatur skenario pengiriman narkoba dari Malaysia ke Aceh.(*)

Post a Comment

0 Comments