Maknoh dan Radionya yang Setia



HABANANGGROE24.COM -Pria kelahairan tahun 1966 ini hidupnya kerap menjadi anak perantauan.

Namanya Maknoh pria separuh bayu dengan rambut yang mulai putih wajah berkeriput dan bajunya nampak kusut mempunyai cerita perantauan yang panjang dari perantauan di tanah jawa pada tahun 1981,perantauan di Sumatera Utara dan di Peneng Malaysia pada tahun 2001.


Setelah Tsunami melanda Aceh ia mulai berhijrah ke Bagok (Kecamatan Nurussalam).


Semenjak ia hijarah ke bagok pada tahun 2005 ,Sekarang ia tinggal di pusat kota kecamatan Nurussalam yang sehari-harinya berjalan tak tahu arah dengan menenteng radio kesayangannya.


Saat di jumpai penulis di salah satu Kedai  yang ada di pusat kota Kecamatan Nurussalam,ketika bertanya nama lengkapnya ia hanya menyebut namanya "Noh",nama itu sudah ada sejak ia hidup dalam perantauan.

Ketika di tanyai tentang radionya,ia pun bercerita panjang lebar tentang radio kesayangannya.


Ia mengatakan dengan adanya radio ia dapat mendengar berbagai informasi,salah satunya Informasi Pembunuhan dan Pemerkosaan di Aceh Timur.


"Cukop gawat berita di Bayeum,Ipoh Aneuk Ipajoeh ma Jieh.Gawat berita di Bayeun di Pukul Anaknya di Perkosa ibunya," Kata Maknoh


Selain itu,ia juga bercerita tentang informasi covid-19 yang ia dengar di radio kesayangannya.


Saat di singgung,Apakah pernah mendengar siaran radio Cempala Kuneng Aceh Timur?,dengan cepat ia menjawab sering mendengar dulunya


"Sereng ta deungoe,awai na panton aceh,takoh lipah pula lipah,tapi jinoe hana lee sang," Ujar Maknoh dengan kata-katanya yang terkadang sulit di pahami.

Batre radio yang di gunakan maknoh di dapatkan dari hasil pemberian orang.


Saat di singgung dimana ia tidur dan makan,ia pun menjawab tidurnya di mana saja boleh dan makannya terkadang ada dan terkadang tidak.


Hampir 16 Tahun ia hidup di pusat kecamatan Nurussalam,bagi masyarakat Nurussalam tak asing lagi sosok maknoh.

Post a Comment

0 Comments